Tags

, ,

Nasib apes sedang membuntuti saya. Hari Minggu lalu, sehari sebelum merayakan hari ibu, handphone kesayangan saya Sony Xperia L lengkap dengan SIM dan STNK dijambret saat saya sedang mengendarai motor menuju pulang ke rumah.

Awalnya tidak ada yg mencurigakan. Seperti waktu waktu biasanya, malam itu saya baru beranjak meninggalkan kampus saat adzan isya berkumandang. Sudah jd kebiasaan saya memang menghabiskan weekend dikampus jika sedang tidak ada tugas keluar kota. Setidaknya mengerjakan pekerjaan kantor atau tugas-tugas mahasiswa yg belum sempat dikerjakan selama hari kerja.

Saya meninggalkan kampus unhas jam 19.00 wita. Butuh sekitar 30-45 menit perjalanan menuju rumah jika mengendarai motor. Saat melintas di jalan protokol AP.Pettarani, terlinta dalam pikiran saya ingin sekali makan sate ayam. Maka singgahlah saya diwarung sate langganan dan memesan satu porsi sate ayam seharga Rp.25.000 utk dibawa pulang sebagai makan malam.

Takkala menunggui sate ayam, saya sempatkan menyalakan hp milik saya. Ada beberapa SMS masuk dr mahasiswa S2 tentang jadwal seminar hasil yang akan dilaksanakan minggu depan. Ada juga banyak kabar anyar di sosial media. Namun satu berita yg cukup mengejutkan dari berita di sosmed ini adalah Ayah teman kantor saya baru saja meninggal dunia sore itu. Untuk menunjukkan simpati, maka saya pun turut menuliskan pesan dukacita di laman sosial teman tadi. Rupanya ucapan Innalillahi wa inna ilaihi rojiun selain saya tuliskan untuk almarhum ayah teman saya, juga tanpa dinyana merupakan pesan perpisahan saya dengan hp Sony Xperia L bercover pink yang sudah menemani saya hampir 2 tahun belakangan ini. 10 menit setelah menuliskan pesan duka, hape tsb beserta isinya (SIM & STNK) diambil oleh penjambret tepat di depan kantor Telkom Jl. AP. Pettarani.

Jujur saya akui, memang saya agak lengah saat terjadi penjambretan. Saya tengah melamun, memikirkan esok hari yg bertepatan dengan hari ibu. Sy ingin sekali membuat surprised utk mama saya yg berdomisili di Fakfak, Papua Barat. Saya jarang berbicara pada Beliau, komunikasi saya lebih sering dgn Bapak saya. Mungkin itu serig dialami oleh anak sulung perempuan yang lebih dekat dengan Bapak ketimbang Ibunya sendiri. Oleh karena itu saya bingung akan mengatakan apa pada Beliau ditelpon besok. Nah Karena sedikit melamun sambil mengendarai motor, maka kecepatan motor saya yang biasanya 60Km/jam, berkurang kecepatannya menjadi kira-kira 20-30km/jam. Karena dalam posisi agak melamun otomatis saya jadi tidak sadar dengan lingkungan sekeliling saya. Saya hanya merasa tiba-tiba ada motor dari arah belakang akan melambung,  tapi anehnya lewat sebelah kiri saya dan kemudian melambat sejajar persis disamping motor saya. Tanpa ba bi bu, tangan kanan pengendara tsb merogoh ke dashboard motor saya, dimana ada hp yg selalu saya letakkan kala tidak sedang hujan.

Saya baru sadar setelah sepersekian detik, saat sy melihat cover hp sy yg berwarna pink sudah berpindah tangan ke penjambret bermotor tadi. Sontak saya langsung istigfar dan berteriak “maling!” sekeras-kerasnya. Namun apa lacur, bukannya teriakan yg keluar dari mulut saya, malah hanya teriakan serak seperti burung Beo yang sedang berceloteh. Saking kagetnya saya juga kehilangan suara!

Setelah sadar dijambret, saya lantas mulai memacu motor mengejar penjambret tersebut yg membelok di U Turn Telkom dan berbelok arah menuju arah tol. Saya sempat kejar-kejaran selama l.k 1 km, dimana saya mengekor motor penjambret sekiatr 10m dibelakang motornya. Namun perlahan-lahan, saya akhirnya kalah kencang karena banyaknya kendaraan mobil dan motor berseliweran diantara kami. Rasa-rasanya sy sempat melarikan motor saya dgn kecepatan >100km/jam, menerobos celah sempit antara dua Mobil, sampai akhirnya sy harus berhenti mengejar karena kehilangan jejak si penjambret jahat. Semua karena adrenaline rush, yang membuat saya kehilangan kesadaran akan bahaya kecelakaan lalulintas yang bisa saja terjadi saat pengejaran itu. Setelah kehilangan jejak di depan kantor DPRD, saya akhirnya melambatkan motor ke sisi kiri jalan.

Kala berhenti itu saya istigfar lagi dan tiba-tiba diberi kesadaran, apa untungnya saya mengejar jambret tsb. Salah-salah nanti malah saya yg jadi korban. Siapa tau saya sengaja dipancing ketempat sepi oleh jambret motor tadi, dan disana ternyata sudah menunggu teman-teman penjambret tsb? Hiiiiii…..saya bergidik ngeri memikirkan kemungkinan terburuk yg bisa saja menimpa saya. Sempat kebingungan apa yang harus saya lakukan, apakah pulang ke rumah atau menghubungi polisi melaporkan peristiwa yg baru saja saya alami. Setelah menimbang-nimbang, Saya akhirnya memutuskan untuk langsung membelok ke arah Polsek sekitar tempat kejadian yaitu Polsek Panakkukang. Polsek ini terletak di Jl. Pengayoman, tidak jauh dr salah satu mall terbesar dikota ini.

Jam menunjukkan pukul 19.45 wita saat melapor. Karena masih gugup dan panik pasca kejadian, motor matic yg seharusnya sy parkir diluar pagar kantor polsek malah sy parkir tepat didepan pintu masuk kantor polisi (Lol). Ada dua org yg duduk di bagian jaga, satu polisi paruh baya berseragam polisi dan satunya lagi saya duga adalah tukang parkir karena melihat rompi orange yg dikenakannya.

Setelah mengucap salam, masih dengan pikiran kalut dan nafas terengah-engah saya pun berujar “Pak, saya mau lapor, saya habis dijambret barusan. Sy harus lapor dimana pak?” Pak polisi yg piket itu lantas menyuruh saya tenang dan menceritakan kronologis penjambretan yg saya alami. Saya kemudian disarankan menuju ke ruangan sebelah yg bersambung dgn ruang jaga tersebut.

Dipintu ruangan yg ditunjuk saya berpapasan dgn seorang polisi paruh baya yg baru mau masuk ke ruangan yg saya tuju. Sepertinya polisi ini adalah pemilik ruangan tsb. Sy lantas bertanya dimana kalau mau melapor kejadian kriminal? Si polisi kedua ini dengan santai menjawab, “Diatas. Naik ke lantai 2” sambil menunjuk ke sebuah ruangan di atas musholla. Ke lantai 2? Kata saya. Dia mengangguk.

Walaupun heran mengapa tempat melapor ada di lantai 2, akhirnya saya turuti saja petunjuk polisi ke-2 tadi. Menaiki tangga lantai 2 sy bertemu dgn beberapa remaja belia, pria dan wanita. Sy agak bingung melihat mengapa mereka disana. Intel kah? Soalnya mereka semua berpakaian biasa dan duduk bergerombol di sebuah ruangan kecil berdinding tripleks. Melihat kehadiran saya, salah satu remaja perempuan bertanya ke saya ada apa. “Saya mau melapor kasus penjambretan, dimana?”. “Ooh, didalam situ Mbak! Katanya ramah sambil menunjuk sebuah ruangan disebelah kanannya.

Saya pun bergegas masuk ke ruangan tsb. Ada 4 wanita muda dan dua laki-laki dlm ruangan tsb. Para wanita muda itu duduk membelakangi saya dan berhadapan dengan dua pria dibalik meja yg sedang menulis di atas kertas (sepertinya polisi).

Permisiiii….saya mau melapor Pak! Kata saya. “Ada apa?” kata Polisi yg sdg mencatat. “Saya mau melapor ttg kasus penjambretan Pak. Tadi Pak Polisi di Lantai 1 nyuruh saya naik ke sini untuk melapor” sambung saya lagi. “Lho bukan disini Bu lapornya, di Lantai 1. Disini ruang BAP! kata polisi ketiga tanpa tersenyum. “Itu orang dibawah bikin apa sih? Kok disuruh kesini! Nada suaranya sengit.

Karena kesal merasa dipermainkan, nada suara saya menjawab agak tinggi. “Lha, sy mana tau Pak disini atau dilantai 1 melapornya. Saya ini korban, bukan petugas disini! Mana saya tau harus melapor di lantai 1 atau 2. Wong saya belum pernah kesini sebelumnya!” Kesal, jengkel dan marah membuat sy kehilangan rasa sungkan pada polisi ini. Mungkin karena melihat sy yg sudah mulai juga emosi maka suara polisi tsb pun melunak. Dia lantas berdiri dari kursinya dan mendekati saya sambil berujar “Ibu, melapornya dilantai 1 bawah untuk kasus kehilangan. Sini sy tunjukkan.

Sy yg awalnya sudah hampir meledak karena kumulasi dari sikap bbrp polisi td akhirnya melunak. Ditemani polisi dari Lt.2 akhirnya sy turun kembali ke Lantai 1. Setelah polisi kedua berbicara dengan polisi kedua di lantai satu tadi, akhirnya polisi kedua minta maaf ke saya dan mengakui kekeliruannya. Dikiranya sy tadi adalah anggota keluarga dari para wanita muda yg sedang diinterogasi di Lantai 2 tadi. Pfiuuuuuh,…Dan saya pun hanya bisa mengurut dada sambil dalam hati ngomel-ngomel “Makanyaaaa, lain kali tanya dulu kek sebelum ngambil kesimpulan. Sok tau aja Pak Polisi ini. Ngabisin waktu orang saja. Isk!”

Laporan penjambretan malam itu terpaksa batal karena ternyata Komputer di ruang tsb rusak (tepokjidat). Selain itu sy juga tdk membawa bukti dokumen BPKP bersama saat melapor, padahal utk melaporkan STNK yg hilang bukti fotokopi BPKP harus disertakan karena ada bbrp data penting dr dokumen tsb yg harus dituliskan pada surat keterangan hilang. Yeeh…mana sy tau kalau bakal kehilangan stnk. Masa mau bawa bpkb tiap hari? Emang sy tukang gadai motor?

Karena malas berdebat, saya pun pamit pulang daan berjanji akan datang lagi esok. Langkah yg utama perlu sy lakukan adalah mencari koneksi internet mengingat hape yg hilang tsb tersambung dgn beberapa akun sosial media seperti FB, Twitter, Path, email-email, WhatsApp, Line, Instagram Dan masih banyak lagi yg lainnya. Saya sangat khawatir jangan-jangan jambret tersebut memposting status atau gambar yg tidak senonoh seperti kejadian yg pernah menimpa kawan beberapa waktu lalu di Akun sosial media saat hp-nya juga hilang dicuri. Dan kecerobohan kecil seperti ini sangat berbahaya mengingat di akun FB saya ada banyak dosen, mahasiswa dan kerabat yang masuk dalam list teman saya.

Dengan pikiran berkecamuk dan jantung dag dig dug sy akhirnya ngebut pulang ke rumah yg berjarak sekitar 3km lagi utk segera terhubung ke internet dan mengabarkan pada dunia agar berhati-hati terhadap panggilan atau permintaan apapun dr nomor hape saya yg dijambret. Selain itu saya juga perlu meminta advise bagaimana cara memblokir nomor Simcard yg terikut pada hp tersebut, agar tidak digunakan macam-macam oleh si pennjambret tadi. Yang jelas kejadian malam tsb membangunkan rasa kesiagaan saya yang sempat tertidur. Agar kedepannya lebih waspada dan berhati-hati saat berkendara sendirian di malam hari meski berada di jalan raya besar.
Hiks hiks hiks, good bye hapeku sayang, semoga kamu tenang di alammu sana.

via WordPress for Phone http://goo.gl/j6Fzhf

Advertisements