Tags

, , , , ,

“Ibu Olahragawati Ya?” Tanya perawat yang sedang berdiri disamping tempat tidur saya. Saya agak kaget-kaget takjub ketika ditanya tiba-tiba oleh perawat di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin (RSUH) yang baru saja selesai melakukan pemeriksaan EKG pada saya. Dengan tatapan heran masih ditempat tidur, saya gagap menjawab,” eh…iya, pelari ka’ (Red: Iya, saya pelari)'”. Perawatnya tersenyum lalu mengangguk-anggukan kepala mahfum. “Pantasan Heart Rate’ta dibawah 60” (Red: Pantas saja Heart Rate Anda dibawah 60) sambil menyerahkan selembar kertas hasil pemeriksaan EKG pada saya.
Hari ini tepatnya tanggal 20 Maret 2014, saya beserta beberapa dosen maupun staff dari Universitas Hasanuddin mendapat surat panggilan untuk melakukan medikal checkup di Rumah Sakit Unhas yang juga merupakan Rumah sakit milik universitas berlambang Ayam Jantan ini. Medikal checkup ini rupanya jadi program wajib untuk diikuti seluruh dosen maupun staff di UNHAS. Saking wajibnya undangan pemeriksaan kesehatan yg saya terima beberapa hari sebelumnya sampai harus menggunakan nomor dan kop surat Unhas yg ditanda tangani langsung oleh Pembantu Rektor II. Disitu tertera nama dosen yg diundang plus pesan bahwa 12 jam sebelum pemeriksaan dosen ybs harus puasa dan jadwal pemeriksaan berlangsung dari jam 08.30 – 12.00 WITA.

Tepat jam 09.00 WITA pagi tadi saya sudah menginjakkan kaki dipelataran RSUH. Begitu masuk ke RSUH, dibagian Informasi saya sudah disambut ramah oleh resepsionis yang tersenyum manis begitu saya tunjukkan surat undangan pemeriksaan. Mbak Resepsionis berjilbab tsb lantas mengarahkan saya ke bagian poliklinik RSUH yang terletak di bagian belakang kanan meja resepsionis tersebut. Melangkahkan kaki kedalam poliklinik, saya disambut pemandangan antrian pasien maupun  pengantar pasien yang lumayan ramai sedang duduk dibangku-bangku ruang tunggu poli.

Image

Suasana di Ruang Tunggu Poliklinik RSUH

Dari pintu masuk poli, meja pendaftaran khusus Medikal Checkup Unhas (MCU-UH) sudah kelihatan dari jauh. Letaknya persis didepan poli Interna (penyakit dalam). Disitu sudah siap dua orang staff pria paruh baya yang akan meminta anda untuk mengisi form pendaftaran sesuai dengan kartu identitas yang digunakan untuk mendaftar. Jadi jangan lupa bawa KTP atau SIM atau paspor ya saat MCU disini ya. Kebetulan saat saya tiba, dibangku depan staff penerimaan tadi rupanya sudah ada dua dosen dari Fakultas Kedokteran, kedua-duanya lebih senior beberapa angkatan diatas saya diFK, dr. Dilam & satunya dokter pria (saya tidak sempat tanya namanya, padahal kami sempat ngobrol sama-sama tadi). Mereka sedang mengisi form pasien baru juga. Selain itu saya juga sempat berpapasan dengan beberapa dosen Fakultas lain yg saya kenal, pak Fiman Zaqi, Pak Mappe, Pak Eko, dr.Ilo, dan beberapa dosen senior yg saya kenali wajahnya tapi tidak tau namanya. **maap Bapak/Ibu dosen**. Tidak lama kemudian, salah satu staff pria yg melihat saya berdiri disamping mejanya rupanya sudah bisa menebak saya juga akan MCU, lantas mempersilahkan saya duduk di kursi sebelah kedua dosen senior tadi.

Sambil menunggu giliran mengisi, iseng-iseng saya foto kegiatan senior yg sedang mengisi form tersebut karena langsung tiba-tiba muncul ide untuk nulis diblog. Dan saat nulis diblog, tidak sah rasanya jika tidak melampirkan foto ini sebagai bukti otentik.

Image

Staff RSUH dibagian pendaftaran Medikal Checkup Unhas

Tidak berapa lama tiba giliran saya mengisi form pasien baru. Kedua dosen senior tadi sudah diantarkan oleh salah satu staff admission tadi ke ruang pemeriksaan pertama. Dengan khidmat saya mengisi semua pertanyaan dan mencentang kolom-kolom yang tersedia dalam formulir tersebut.

Image

Formulir dan SIM dengan foto pipi gembul;p

Formulir selesai diisi, saya juga lantas diantar oleh Staff pendaftaran ke ruang pemeriksaan darah dan urine yang jaraknya lebih kurang 10 meter dari meja pendaftaran tadi. Disitu saya menunggu sekitar 10 menitan sebelum akhirnya dipanggil masuk ke bilik pengambilan spesimen darah oleh seorang pria muda yg lengkap dengan masker dan sarung tangan sekali pakainya. Pria tersebut diam sejenak, sibuk menyiapkan beberapa tabung bening kecil untuk diisi darah dan satu botol transparan kecil untuk urine sambil tidak lupa menuliskan nama saya pada tabung2 tersebut. Setelah itu petugas tersebut menjelaskan dengan singkat prosedur yg akan saya lalui dan sensasi yg akan saya rasakan saat pengambilan darah. Lengan atas saya diikat menggunakan torniquet atau semacam tali karet untuk membendung pembuluh darah, lalu lengan saya diletakkan diatas bantalan empuk untuk menyangga, dan saya diminta mengepalkan tangan kiri seperti sedang menggenggam sesuatu. Darah saya diambil menggunakan spoit sekali pakai yg baru dibuka saat akan digunakan.

Image

Ilustrasi pengambilan darah vena

Walaupun sudah pernah mengambil darah pasien beberapa kali saat masih praktek  diRS dulu, namun jika giliran saya sendiri yang diambil darah, perasaan berdebar-debar dan ngeri itu tetap ada **hey, meski saya perawat, tapi saya juga punya rasa takut lah, hahaha”. Terlebih-lebih saat melihat jarum suntik mulai akan menembus kulit lengan saya yg halus, degup jantung serasa bertambah kencang. Hanya doa-doa dalam hati yang dan pengalihan fokus dengan memikirkan hal lain yang selalu bisa mengurangi rasa sakit yang tiba-tiba datang menyergap dibagian yang ditusuk. Cussss, darah langsung keluar dari pembukuh darah vena dan meluncur keruang hampa dalam spoit. Bye darahku……..sampai ketemu lagi kita yaaa, kirim email kalau dah nyamep #eeh

Pemeriksaan berikutnya berlanjut ke urine, saya diminta masuk ke sebuah toilet yg berada tepat disamping ruang pemeriksaan darah. Disini saya tidak terlalu mengalami kesulitan mengumpulkan spesimen urine. Karena walaupun sudah sempat ke toilet tadi pagi ternyata urine yg tertampung cukup banyak bahkan hampir meluber kemana-mana hehehe **blushing**. Berbeda dengan beberapa ibu-ibu dosen yang lebih duluan diperiksa sebelum saya, mereka sempat mengeluh sulit buang air kecil karena tidak ada keinginan untuk berkemih sama sekali, tidak heran urine yang mereka kumpulkan jumlahnya juga sedikit. Saya sendiri cukup senyum-senyum dikulum membayangkan kejadian urine meluber yg sekarang sudah berpindah kedalam botol. Oh ya, satu yang jadi concern saya ditempat pemeriksaan urine ini adalah tidak berfungsinya wastafel untuk cuci tangan, padahal tangan pastinya kotor setelah berurusan dengan spesimen urine dalam botol tadi. Selain itu juga tidak ada sabun antiseptik dan tissue saat mencuci tangan didalam toilet. Jadi keluar dari toilet saya agak-agak parno memegang hape saya mengingat ditangan saya bisa saja terikut sejumlah kuman tak terlihat dari toilet tadi.

Keluar dari ruang pemeriksaan darah dan urine saya kembali ke staff bagian pendaftaran tadi. Olehnya saya diarahkan ke poli THT. Sedianya saya seharusnya ngantri dulu diPoli Treadmill untuk pemeriksaan Elektrokardiografi (EKG) tapi karena pegawainya sedang ada pertemuan, maka jadinya berkas MCU saya di bawa ke Poli THT. Saat menunggu panggilan dipoli ini, saya bertemu teman dosen lain, dr. Yenni yg juga hari itu mendapat panggilan yg sama. Lumayan lama kami ngobrol sana sini sebelum akhirnya dipanggil masuk satu persatu ke dalam ruang pemeriksaan poli THT.

Didalam poli THT ini pemeriksaannya hanya sebentar sekali, tidak cukup 3 menit. Rasanya baru masuk pintu, eh langsung keluar lagi. Didalam hanya dipanggil nama, terus dokternya mengkonfirmasi ulang pekerjaan saya lantas menyuruh duduk dikursi pemeriksaan. Telinga kanan dan kiri lalu disenter untuk melihat ada kotoran telinga atau adakah sumbatan. Lalu dokternya kemudian bertanya, ada kelainan ditenggorokan, dan saya jawab TIDAK. Sudah begitu saja dan selesai.

Lah, perasaan saat kuliah dulu, jika latihan pengkajian THT, kayaknya banyak sekali jenis pemeriksaannya. Mulai dari anamnesa, inspeksi, palpasi, ditambah pemeriksaan telinga menggunakan otoskop, uji garputala atau tes audiometri, dll. Sampai-sampai saya dulu sempat ujian remedial gara-gara keliru menyebut nama jenis uji garputala dari uji Rinne menjadi Uji Weber **manyun**

Jarum jam sudah menunjukkan jam 10.30 dan baru tiga pemeriksaan yang terlewati, padahal masih banyak pemeriksaan yg harus dilalui jika merujuk ke daftar pemeriksaan yg tertera dihalaman depan berkas MCU. Karena tadi asyik ngobrol dengan dr.Yenni, makanya kami sepakat untuk jalan bareng saja ke poli-poli pemeriksaan berikutnya. Kan lebih enak ada teman jalan bareng biar bingung dan tersesatnya bareng-bareng juga, hehehe

Pemeriksaan berikutnya adalah diPoli Saraf dan EEG, tapi berhubung antrian mengular juga dan pemeriksaannya agak sedikit lama, maka saya dan dr. Yenni memutuskan ke lantai dasar RSUH untuk pemeriksaan Radiologi terlebih dahulu. Di basement kami sempat kebingungan mencari ruang poli Radiologi. Soalnya yg kami temukan pertama adalah papan plang Ruang Radioterapi. Kami bertanya pada staff dibagian penerimaan Radioterapi, rupanya Radiologi ada diseberang ruangan ini. Tapi setelah masuk ke ruang Radiologi, berkas MCU kami kemudian diarahkan kembali ke dalam ruang Radioterapi yg tadi pertama kami datangi. **garuk-garuk kepala bingung**.
Di ruang radioterapi utk pemeriksaan X-Ray, kami menunggu sekitar 20 menit sebelum dibawa masuk ke ruang X-Ray. Sambil menunggu, rupanya lambung yg sudah mulai berpuasa makan sejak jam 6 sore kemarin mulai bertingkah. Karena agak lapar, kami duduk mengunyah biskuit dan air putih yg memang sengaja masing-masing kami bawa dari rumah sambil menunggu panggilan masuk. Panggilan pertama X-Ray untuk dr.Yenni kemudian disusul saya.

Pada dasarnya prosedur di ruang X-ray ini sudah bagus, komunikasi petugasnya juga ramah dalam mengarahkan sesi pemeriksaan, petugasnya pun wanita jika pasien yg  diperiksa adalah wanita. Namun satu hal yg selalu membuat saya jadi kurang nyaman diruang X-ray adalah saat berganti pakaian.  Sudah berapa kali saya periksa X-Ray dibeberapa rumah sakit di Sul-Sel, mayoritas pengalaman berganti pakaian ini yang kurang menyenangkan bagi saya. Privasi kurang terjaga karena ruang ganti tidak benar-benar tertutup bahkan dilakukan langsung di dalam ruang pemeriksaan tanpa ada tirai atau penghalang. Hanya sekali pernah saya merasa nyaman saat melakukan pemeriksaan X-Ray di Inggris dulu. Ruang gantinya walaupun kecil seperti tempat fitting room di mall, tapi tertutup dab wangi. Pasien tidak merasa seperti sedang diawasi oleh kamera atau tatapan petugas disana. Saat sudah siap, saya tinggal diarahkan utk prosedur pengambilan foto Rontgen dada. Ini mungkin bisa jadi masukan bagi RSUH, paling tidak bisa ada partisi atau tirai untuk ganti baju lengkap dengan cermin didalam ruangan tsb. Sehingga saat pasien atau yg diperikas berganti pakaian bisa menjadi lebih nyaman dilakukan tanpa khawatir dilihat orang lain dan keluar ruangan dengan rapi, jilbab tidak mencong kiri kanan, dan rambut tidak awut-awutan seperti habis ditabrak angin, hehehe

Berikutnya kami kembali naik ke poli dilantai 1 tadi. Kami masukkan berkas MCU ke poli Treadmill untuk menunggu panggilan pemeriksaan EKG. Disini kami menunggu agak lama. Rupanya salah satu Ners penanggungjawab EKG disitu sedang tidak ada ditempat, makanya Ners dari poli Interna ditarik untuk menggantikan sementara. Ada sekitar 40 menitan kami menunggu sebelum akhirnya dipanggil masuk secara bergantian kedalam. Untungnya saya tidak sempat mengalami kebosanan yg hebat selama menunggu karena saya sempatkan membawa buku The Alchemist-nya Paolo Coelho untuk dibaca saat menunggu seperti ini **asyik baca buku – mengembara dari Andalusia ke Mesir bersama Santiago si gembala domba**.

Image

Ada yg lucu saat kemudian saya mendapat giliran pemeriksaan EKG. Didalam ruang EKG, disamping tempat tidur pemeriksaan ada treadmil. Pikiran pertama saya langsung, asyiiiik….lumayan nih bisa olahraga lari sebentar **siap-siap pemanasan**. Tapi angan-angan saya untuk lari langsung buyar ketika Ners-nya masuk dan dengan suara lembut meminta saya untuk berbaring ditempat tidur. Saya dengan wajah yg setengah kecewa hanya bisa menuruti permintaanya sambil tetap melihat treadmil yg nganggur tersebut, hikshikhiks. Pemeriksaan EKG sekarang ini sudah tidak serlalu seribet masa saya S1 dulu awal tahun 2000-an yg mesti pakai jelli untuk menempelkan elektroda. Yg sekarang cukup ditempelkan saja didada, akan menempel dengan sendirinya dititik2 sekitar jantung tanpa perlu membuka baju dan dalaman secara keseluruhan.

Image
“Ibu Olahragawati Ya?” Tanya Ners yang sedang berdiri disamping tempat tidur saya sesaat selesai melakukan pemeriksaan EKG. Dengan tatapan heran masih ditempat tidur, saya gagap menjawab,” eh…iyye, pelari ka’ (Red: Iya, saya pelari)'”. Perawatnya tersenyum mengangguk-angguk lalu menjawab “Ooh……pantasan Heart Rate’ta dibawah 60” (Red: Pantas saja Heart Rate Ibu dibawah 60 bpm) sambil menyerahkan selembar kertas hasil pemeriksaan EKG pada saya. Rentang Heart Rate(HR) normal adalah 60 – 100bpm, nah HR saya 53 bpm (beat per minute) bradikardi atau lebih lambat dari normal memang, namun dalam kondisi tubuh terbiasa terpajan dengan olahraga rutin misalnya lari, HR kurang dari 60bpm dapat diprediksi. Saya tersenyum sendiri. Hehehe, rupanya tidak sia-sia saya rutin lari bersama Komunitas Indorunners Makassar setahun terakhir ini. Rutin lari ternyata membawa dampak bagus pada kerja jantung dan bodi saya, bahkan dikira Olahragawati pula. Eh, olahragawati sama dengan atlet bukan ya?! hahaha **ke-GR-an**.

Jam sudah menunjukkan jam 12 siang dan masih ada beberapa pemeriksaan lagi yg harus kami lalui. Masih ada poli Saraf & EEG, poli mata dan poli interna. Diantara ketiga poli tersebut yg terjangkau saat ini adalah bagian Saraf & EEG yg sebenarnya bersebelahan dengan poli THT. Antrian dibagian ini sudah berkurang makanya kami cepat mendapat giliran utk diperiksa. Disini kami temui seorang dokter dan Ners yg kebetulan alumni dari Unhas juga. Didalam kami langsung di anamnesa dan diberikan ujian tulis. dr. Yenni diminta menggambar bentuk, menghubungkan angka dan huruf, mengenali benda, menggambar jam 11.10 sedangkan saya ditanya-tanya tentang pengurangan dari angka 100-6-7-3, dst kemudian mengingat lima kata yg disebutkan dokter tersebut untuk diulang lagi berikutnya setelah lewat 2 menit. Saya juga diminta menyebutkan 10 kata yg berawalan huruf S, tapi tidak boleh nama orang atau nama tempat.

Pada pemeriksaan saraf ini saya sempat salah dua kali. Pertama saat diminta mengulang lima kata yg disebutkan dokternya, saya hanya mampu mengingat tiga kata terakhir. Dua kata didepan, bisa saya ingat setelah dokternya memberikan clue atau kata kunci. Kesalahan kedua, saat saya diminta menggambar sebuah benda dikertas. Instruksinya adalah gambarkan jam yg menunjukkan waktu 11.10. Tanpa merasa berdosa sy dengan PD menggambarkan jam bundar lengkap dengan angka 1-12, dimana jarum pendek sy gambarkan menunjuk pada angka 11 dan jarum panjang di angka 10 *TETOOOT! salah hahaha** . Untung dokternya baeji mengingatkan saya bahwa ada yg perlu diperbaiki dari gambar saya dan meminta saya menggambar ulang. Kata saya: “Dok, coba saya disuruh gambar gunung dan sawah lengkap dengan jalan ditengahnya, pasti betulmi itu gambarku dok**. Dan dokternya pun hanya bisa geleng-geleng kepala.

Jujur saya akui memang sejak kecil saya memiliki masalah dengan short term memory atau memori jangka pendek. Kadang saya mudah lupa pada peristiwa yang baru saja terjadi, namun kondisi mudah lupa ini tidak terjadi untuk memori jangka panjang. Nah untuk mengakali kekurangan di short term memory ini, kadang saya menggunakan metode Jembatan Keledai yg ada di Quantum Learning atau memvisualisasikan kata atau kalimat agar mudah diingat oleh otak saya yang mungil ini. And it usually worked! Sayangnya untuk mengingat lima kata tadi, saya hanya fokus memvisualisasikan tiga kata terakhir **Alibi**

Sebenarnya kami masih ingin melanjutkan ke pemeriksaan berikutnya agar MCU hari ini rampung semua. Sayangnya karena jam kerja dipoli hanya berlangsung sampai jam 11-12, maka niat tersebut terpaksa kami urungkan. Jam sudah menunjukkan hampir jam 13.00 WITA. So terpaksa kami simpan saja dulu berkas MCU kami dibagian pendaftaran tadi. Kata si Bapak dibagian pendaftaran biasanya dokter, ners dan pegawai registrasinya sudah tidak ditempat jam-jam segini. lebih baik kembali lagi besok untuk melanjutkan di bagian Poli mata dan poli interna. Baiklah….berhubung perut juga sudah setel musik Linkin Park yg menghentak-hentak minta diisi, terpaksalah kami tinggalkan RSUH. Besok datang lagi, pagi-pagi tentunya, biar dapat antrian lebih pagi dan lebih duluan selesai.

Advertisements