Orientasi Mahasiswa Baru yang Fun dan Bermartabat

[OPINI OSPEK] Dari tiga masa orientasi mahasiswa baru saat mengambil S1 dan S2, tiga-tiganya memorable, namun hanya dua yang memberikan kenangan menyenangkan, Satunya lagi kurang menyenangkan. Yang tidak menyenangkan ini, sayang sekali terjadi di Indonesia saat saya masuk di salah satu prodi S1 di Indonesia.
Masa orientasi di kala itu hanya berisi kenangan buruk tentang bentakan senior yang selalu mencari-cari kesalahan maba, jalan kenkreng seperti tahanan, push-up sampai senior puas, tamparan dan tonjokan, tugas-tugas dadakan yang tidak masuk akal dan memalukan, dandanan aneh seperti orang gila, subuh-subuh bangun hanya untuk membuat cacing rambut sesuai tanggal hari itu, makan siang yang harus dimulai dengan makan sambal dan diakhiri dengan makan nasi, mandi dengan campuran tomat dan telur busuk dan masih banyak lagi hal-hal aneh dan konyol yang hingga saat ini masih membuat saya tidak mengerti apa sebenarnya manfaat dan esensi dari perlakuan senior yang tidak senonoh itu.

Persaan yang amat sangat berbeda saya rasakan ketika mendapat kesempatan kuliah S2 di dua universitas berbeda di luar Indonesia. Masa orientasi mahasiswa baru identik dengan senyum hangat senior yang siap membantu dan ditanyai apa saja, jalan-jalan melihat fasilitas kampus dan juga mengenal kota setempat, BBQ, makan-makan gratis, melihat stand-stand organisasi atau club yang bisa dimasuki selama kuliah sambil minta souvenir gratisnya, party, dan performance budaya oleh mahasiswa baru. Tidak hanya kegiatan yang fun-fun saja, kegiatan serius pun tetap ada seperti latihan menulis akademik, teknik mencari informasi di internet, bagiamana manajemen waktu yang baik, bagaimana menghadapi stress kuliah, bagaimana mengurus kartu mahasiswa, bagaimana menggunakan layanan self-service di perpustaakaan, bagaimana menginstall software yang dibutuhkan untuk kuliah, bagaimana mencari kos-kosan atau akomoadi murah disekitar kampus, mode transportasi yang dapat digunakan untuk mencapai kampus, dan masih banyak lagi aktivitas yang benar-benar membantu kami sebagai mahasiswa baru yang masih minim informasi di kota tersebut. (Videonya bisa dilihat di link ini )

Ada senior yang pernah mengatakan kepada saya, model orientasi lunak seperti akan membuat maba jadi PATOTOAI (Indonesia; tidak punya rasa hormat/ ngelunjak) kepada senior. Oleh karena itu mereka harus ditunjukkan disiplin dan bagaimana seharusnya memperlakukan senior yang telah lebih dulu makan asam garam dunia kampus. **PREEET!!!** Lebih lanjut Maba juga katanya tidak akan memiliki kenangan manis tentang masa ospeknya jika hanya disayang-sayang oleh senior. Saya hanya bisa tertawa dan geleng-geleng kepala mendengar justifikasi sejenis itu. **dalam hati juga ngomong, kodooong…..kampunganmu Senior!!** Segitu gila hormatnya para senior ini sampai harus pura-pura galak hanya untuk mendapatkan respek dan hormat dari maba. Saya yakin senior-senior yang berpikiran seperti ini belum pernah merasakan langsung apa itu orientasi yang fun dan bermartabat. Jadi seperti katak dalam tempurung, yang mereka tahu hanya dunia dalam tempurungnya yang sempit dan gelap.

Dengar ya bagi Anda mahasiswa calon senior yang sebentar lagi akan menjadi panitia orientasi maba. Respek tidak didapatkan dengan muka masam, bentakan, suara tinggi, hinaaan apalagi penyiksaan fisik. Respek dari maba akan muncul jika kalian mampu menunjukkan prestasi, kerendahan hati, kemauan untuk berbagi informasi dan menjadi role model dengan attitude positif dalam keseharian. Respek tidak didapatkan dengan berkoar-koar “Hargai Seniormu!!” atau “Saya Seniormu!!!” padahal prestasi dibangku kuliah NOL BESAR dan IPK terjun bebas.

Sebagai mahasiswa baru, adik-adik kita ini butuh berbagai informasi yang akan membuat tahun-tahun pertama mereka kuliah menjadi lebih mudah dan lancar. Mereka butuh informasi dimana gedung PB, MKU untuk kuliah bersama, butuh informasi dimana mencari kos-kosan murah, bagaimana trik-trik menulis yang diterima dosen, dimana mencari jurnal artikel yang kelak akan menjadi teman tidur mereka, organisasi kemahasiswaan apa yang sesuai dengan bakat dan minat mereka, bagaimana adat istiadat orang Makassar dan Sulawesi Selatan pada umumnya agar tidak salah berkata-kata atau bertindak, dan masih banyak lagi hal-hal lain yang dibutuhkan oleh mereka yang baru pertama kali menginjakkan kaki dikota ini.
Buatlah masa orientasi mereka memorable dan menyenangkan. Tolong bantu mereka. Anggap seperti adik-adik kalian sendiri.
Insya Allah mereka akan mengingat momen ini dalam kenangan manis dan akan menceritakan pada orangtua dan kerabat mereka dikampung, bahwa disini dikampus ini mereka menemukan kakak-kakak baru, saudara baru, teman-teman baru yang akan membantu mereka menjalani masa-masa berat mereka menuntut ilmu di kampus merah ini.
So, bagi kakak-kakak panitia dan para instruktur orientasi mahasiswa baru, keluarlah dari tempurung Anda yang sempit dan gelap. Buatlah oreintasi mahasiswa baru tahun ini dan tahun-tahun berikutnya manjadi lebih FUN, BERMANFAAT dan layak untuk dikenang sebagai salah satu momen terbaik dalam kehidupan mereka.

**Makassar, 4 Agustus 2015**

Puding Busa Susu

Hari ini saya baru saja mengantar Bapak untuk konsul ke bagian Gizi Klinik. Hasil lab albumin Bapak sangat rendah dari nilai normal (2.2), padahal kebutuhan proteinnya sangat tinggi karena sedang dalam proses penyembuhan luka DM di kaki kirinya. Setelah konsultasi dengan Dokter Gizi, tadi saya disarankan untuk membuat pudding putih telur sebagai suplemen tambahan agar Bapak tidak bosan dengan menu makanan hariannya.

Iseng-iseng coba googling, eh dapat website yang berisi kumpulan resep membuat pudding dari putih telur. Daripada hilang dan terlupakan, lebih baik saya masukkan saja dalam blog saya biar gampang intip resepnya kalau mau dibuat, hehehe. Note: Foto puddingnya akan diupload setelah puddingnya jadi ya. Cekidot!

PUDING BUSA SUSU

Lama Pengerjaan : 15 menit, Porsi : 4 orang
Bahan Yang harus disiapkan:

Bahan 1: 1 sachet agar-agar putih, 400 ml susu cair, 200 gr susu kental manis.

Bahan 2: 3 putih telur, 100 gr gula pasir

Cara Membuat:

  1. Campurkan semua bahan I, aduk dengan api kecil hingga mendidih
  2. Campur semua bahan 2, kocok hingga adonan mengembang
  3. Masukkan bahan 1 ke bahan 2, aduk hingga merata. Masukkan kedalam cetakan puding, lalu dinginkan dalam kulkas.
  4. Potong sesuai ukuran, dan siap untuk dihidangkan.

Sumber: Cookpad.com

Dilemmalogi

Tags

Dilemmalogi itu adalah saat kamu pengen kuliah di New Zealand kampungnya para hobbit, tapi belum bisa terwujud karena syarat masuk Universitasnya ketinggian. Disisi lain Profesor dr Australia & UK malah bersedia jadi supervisor PhD kamu dgn topik riset yang kamu sukai. Tapi sayangnya kamu udah gak terlalu tertarik menjelajah ke dua benua tersebut. Dan waktu yg tersedia utk memutuskan tinggal sedikit. Hayooo, pilih passion atau insting? Dilemmalogi

via WordPress for Phone http://goo.gl/j6Fzhf

Jambreeeet!!

Tags

, ,

Nasib apes sedang membuntuti saya. Hari Minggu lalu, sehari sebelum merayakan hari ibu, handphone kesayangan saya Sony Xperia L lengkap dengan SIM dan STNK dijambret saat saya sedang mengendarai motor menuju pulang ke rumah.

Awalnya tidak ada yg mencurigakan. Seperti waktu waktu biasanya, malam itu saya baru beranjak meninggalkan kampus saat adzan isya berkumandang. Sudah jd kebiasaan saya memang menghabiskan weekend dikampus jika sedang tidak ada tugas keluar kota. Setidaknya mengerjakan pekerjaan kantor atau tugas-tugas mahasiswa yg belum sempat dikerjakan selama hari kerja.

Saya meninggalkan kampus unhas jam 19.00 wita. Butuh sekitar 30-45 menit perjalanan menuju rumah jika mengendarai motor. Saat melintas di jalan protokol AP.Pettarani, terlinta dalam pikiran saya ingin sekali makan sate ayam. Maka singgahlah saya diwarung sate langganan dan memesan satu porsi sate ayam seharga Rp.25.000 utk dibawa pulang sebagai makan malam.

Takkala menunggui sate ayam, saya sempatkan menyalakan hp milik saya. Ada beberapa SMS masuk dr mahasiswa S2 tentang jadwal seminar hasil yang akan dilaksanakan minggu depan. Ada juga banyak kabar anyar di sosial media. Namun satu berita yg cukup mengejutkan dari berita di sosmed ini adalah Ayah teman kantor saya baru saja meninggal dunia sore itu. Untuk menunjukkan simpati, maka saya pun turut menuliskan pesan dukacita di laman sosial teman tadi. Rupanya ucapan Innalillahi wa inna ilaihi rojiun selain saya tuliskan untuk almarhum ayah teman saya, juga tanpa dinyana merupakan pesan perpisahan saya dengan hp Sony Xperia L bercover pink yang sudah menemani saya hampir 2 tahun belakangan ini. 10 menit setelah menuliskan pesan duka, hape tsb beserta isinya (SIM & STNK) diambil oleh penjambret tepat di depan kantor Telkom Jl. AP. Pettarani.

Jujur saya akui, memang saya agak lengah saat terjadi penjambretan. Saya tengah melamun, memikirkan esok hari yg bertepatan dengan hari ibu. Sy ingin sekali membuat surprised utk mama saya yg berdomisili di Fakfak, Papua Barat. Saya jarang berbicara pada Beliau, komunikasi saya lebih sering dgn Bapak saya. Mungkin itu serig dialami oleh anak sulung perempuan yang lebih dekat dengan Bapak ketimbang Ibunya sendiri. Oleh karena itu saya bingung akan mengatakan apa pada Beliau ditelpon besok. Nah Karena sedikit melamun sambil mengendarai motor, maka kecepatan motor saya yang biasanya 60Km/jam, berkurang kecepatannya menjadi kira-kira 20-30km/jam. Karena dalam posisi agak melamun otomatis saya jadi tidak sadar dengan lingkungan sekeliling saya. Saya hanya merasa tiba-tiba ada motor dari arah belakang akan melambung,  tapi anehnya lewat sebelah kiri saya dan kemudian melambat sejajar persis disamping motor saya. Tanpa ba bi bu, tangan kanan pengendara tsb merogoh ke dashboard motor saya, dimana ada hp yg selalu saya letakkan kala tidak sedang hujan.

Saya baru sadar setelah sepersekian detik, saat sy melihat cover hp sy yg berwarna pink sudah berpindah tangan ke penjambret bermotor tadi. Sontak saya langsung istigfar dan berteriak “maling!” sekeras-kerasnya. Namun apa lacur, bukannya teriakan yg keluar dari mulut saya, malah hanya teriakan serak seperti burung Beo yang sedang berceloteh. Saking kagetnya saya juga kehilangan suara!

Setelah sadar dijambret, saya lantas mulai memacu motor mengejar penjambret tersebut yg membelok di U Turn Telkom dan berbelok arah menuju arah tol. Saya sempat kejar-kejaran selama l.k 1 km, dimana saya mengekor motor penjambret sekiatr 10m dibelakang motornya. Namun perlahan-lahan, saya akhirnya kalah kencang karena banyaknya kendaraan mobil dan motor berseliweran diantara kami. Rasa-rasanya sy sempat melarikan motor saya dgn kecepatan >100km/jam, menerobos celah sempit antara dua Mobil, sampai akhirnya sy harus berhenti mengejar karena kehilangan jejak si penjambret jahat. Semua karena adrenaline rush, yang membuat saya kehilangan kesadaran akan bahaya kecelakaan lalulintas yang bisa saja terjadi saat pengejaran itu. Setelah kehilangan jejak di depan kantor DPRD, saya akhirnya melambatkan motor ke sisi kiri jalan.

Kala berhenti itu saya istigfar lagi dan tiba-tiba diberi kesadaran, apa untungnya saya mengejar jambret tsb. Salah-salah nanti malah saya yg jadi korban. Siapa tau saya sengaja dipancing ketempat sepi oleh jambret motor tadi, dan disana ternyata sudah menunggu teman-teman penjambret tsb? Hiiiiii…..saya bergidik ngeri memikirkan kemungkinan terburuk yg bisa saja menimpa saya. Sempat kebingungan apa yang harus saya lakukan, apakah pulang ke rumah atau menghubungi polisi melaporkan peristiwa yg baru saja saya alami. Setelah menimbang-nimbang, Saya akhirnya memutuskan untuk langsung membelok ke arah Polsek sekitar tempat kejadian yaitu Polsek Panakkukang. Polsek ini terletak di Jl. Pengayoman, tidak jauh dr salah satu mall terbesar dikota ini.

Jam menunjukkan pukul 19.45 wita saat melapor. Karena masih gugup dan panik pasca kejadian, motor matic yg seharusnya sy parkir diluar pagar kantor polsek malah sy parkir tepat didepan pintu masuk kantor polisi (Lol). Ada dua org yg duduk di bagian jaga, satu polisi paruh baya berseragam polisi dan satunya lagi saya duga adalah tukang parkir karena melihat rompi orange yg dikenakannya.

Setelah mengucap salam, masih dengan pikiran kalut dan nafas terengah-engah saya pun berujar “Pak, saya mau lapor, saya habis dijambret barusan. Sy harus lapor dimana pak?” Pak polisi yg piket itu lantas menyuruh saya tenang dan menceritakan kronologis penjambretan yg saya alami. Saya kemudian disarankan menuju ke ruangan sebelah yg bersambung dgn ruang jaga tersebut.

Dipintu ruangan yg ditunjuk saya berpapasan dgn seorang polisi paruh baya yg baru mau masuk ke ruangan yg saya tuju. Sepertinya polisi ini adalah pemilik ruangan tsb. Sy lantas bertanya dimana kalau mau melapor kejadian kriminal? Si polisi kedua ini dengan santai menjawab, “Diatas. Naik ke lantai 2” sambil menunjuk ke sebuah ruangan di atas musholla. Ke lantai 2? Kata saya. Dia mengangguk.

Walaupun heran mengapa tempat melapor ada di lantai 2, akhirnya saya turuti saja petunjuk polisi ke-2 tadi. Menaiki tangga lantai 2 sy bertemu dgn beberapa remaja belia, pria dan wanita. Sy agak bingung melihat mengapa mereka disana. Intel kah? Soalnya mereka semua berpakaian biasa dan duduk bergerombol di sebuah ruangan kecil berdinding tripleks. Melihat kehadiran saya, salah satu remaja perempuan bertanya ke saya ada apa. “Saya mau melapor kasus penjambretan, dimana?”. “Ooh, didalam situ Mbak! Katanya ramah sambil menunjuk sebuah ruangan disebelah kanannya.

Saya pun bergegas masuk ke ruangan tsb. Ada 4 wanita muda dan dua laki-laki dlm ruangan tsb. Para wanita muda itu duduk membelakangi saya dan berhadapan dengan dua pria dibalik meja yg sedang menulis di atas kertas (sepertinya polisi).

Permisiiii….saya mau melapor Pak! Kata saya. “Ada apa?” kata Polisi yg sdg mencatat. “Saya mau melapor ttg kasus penjambretan Pak. Tadi Pak Polisi di Lantai 1 nyuruh saya naik ke sini untuk melapor” sambung saya lagi. “Lho bukan disini Bu lapornya, di Lantai 1. Disini ruang BAP! kata polisi ketiga tanpa tersenyum. “Itu orang dibawah bikin apa sih? Kok disuruh kesini! Nada suaranya sengit.

Karena kesal merasa dipermainkan, nada suara saya menjawab agak tinggi. “Lha, sy mana tau Pak disini atau dilantai 1 melapornya. Saya ini korban, bukan petugas disini! Mana saya tau harus melapor di lantai 1 atau 2. Wong saya belum pernah kesini sebelumnya!” Kesal, jengkel dan marah membuat sy kehilangan rasa sungkan pada polisi ini. Mungkin karena melihat sy yg sudah mulai juga emosi maka suara polisi tsb pun melunak. Dia lantas berdiri dari kursinya dan mendekati saya sambil berujar “Ibu, melapornya dilantai 1 bawah untuk kasus kehilangan. Sini sy tunjukkan.

Sy yg awalnya sudah hampir meledak karena kumulasi dari sikap bbrp polisi td akhirnya melunak. Ditemani polisi dari Lt.2 akhirnya sy turun kembali ke Lantai 1. Setelah polisi kedua berbicara dengan polisi kedua di lantai satu tadi, akhirnya polisi kedua minta maaf ke saya dan mengakui kekeliruannya. Dikiranya sy tadi adalah anggota keluarga dari para wanita muda yg sedang diinterogasi di Lantai 2 tadi. Pfiuuuuuh,…Dan saya pun hanya bisa mengurut dada sambil dalam hati ngomel-ngomel “Makanyaaaa, lain kali tanya dulu kek sebelum ngambil kesimpulan. Sok tau aja Pak Polisi ini. Ngabisin waktu orang saja. Isk!”

Laporan penjambretan malam itu terpaksa batal karena ternyata Komputer di ruang tsb rusak (tepokjidat). Selain itu sy juga tdk membawa bukti dokumen BPKP bersama saat melapor, padahal utk melaporkan STNK yg hilang bukti fotokopi BPKP harus disertakan karena ada bbrp data penting dr dokumen tsb yg harus dituliskan pada surat keterangan hilang. Yeeh…mana sy tau kalau bakal kehilangan stnk. Masa mau bawa bpkb tiap hari? Emang sy tukang gadai motor?

Karena malas berdebat, saya pun pamit pulang daan berjanji akan datang lagi esok. Langkah yg utama perlu sy lakukan adalah mencari koneksi internet mengingat hape yg hilang tsb tersambung dgn beberapa akun sosial media seperti FB, Twitter, Path, email-email, WhatsApp, Line, Instagram Dan masih banyak lagi yg lainnya. Saya sangat khawatir jangan-jangan jambret tersebut memposting status atau gambar yg tidak senonoh seperti kejadian yg pernah menimpa kawan beberapa waktu lalu di Akun sosial media saat hp-nya juga hilang dicuri. Dan kecerobohan kecil seperti ini sangat berbahaya mengingat di akun FB saya ada banyak dosen, mahasiswa dan kerabat yang masuk dalam list teman saya.

Dengan pikiran berkecamuk dan jantung dag dig dug sy akhirnya ngebut pulang ke rumah yg berjarak sekitar 3km lagi utk segera terhubung ke internet dan mengabarkan pada dunia agar berhati-hati terhadap panggilan atau permintaan apapun dr nomor hape saya yg dijambret. Selain itu saya juga perlu meminta advise bagaimana cara memblokir nomor Simcard yg terikut pada hp tersebut, agar tidak digunakan macam-macam oleh si pennjambret tadi. Yang jelas kejadian malam tsb membangunkan rasa kesiagaan saya yang sempat tertidur. Agar kedepannya lebih waspada dan berhati-hati saat berkendara sendirian di malam hari meski berada di jalan raya besar.
Hiks hiks hiks, good bye hapeku sayang, semoga kamu tenang di alammu sana.

via WordPress for Phone http://goo.gl/j6Fzhf

Jangan Sedih Aya, La Tahzan

Huhuhu, quite sad this week.

Two scholarship applications to study abroad that i applied to Ausaid & LPDP were rejected and i dunno the reason why they were unaccepted. All documents were completed as what they required from the sponsor. No words or notes, just unaccepted document **nangis bombay**

Anyway, i know I became so melancholic because of these sad news and i need comfort from my best buddy. He is the one who always know what to say to comfort and amuse me with his funny and charming words everytime i feel bad about myself.

So i talked to him through skype and he sent me this two songs. One from S07 (Lapang dada) and the other one from Yuna (Fading Flower). Along with several comforting words, he asked me to listen these songs and also said “Dont be sad, Aya. La tahzan. Semua sudah digariskan Allah SWT. This time maybe you are sad, but trust me the other time you will thanks Allah for what happened today for he change sad news into good news. Trust Him. Just trust Him, okay.
Please Listen to these songs. Hope they will bring back your happy smile.

No other words can I say to show my gratitude to him, only thanks Allah for sending me best friend like him.
To you best friend of mine, miles away from my sight…… bunch bunch thanks Buddy.
I owe you a lot #bowing

Here is the song lyrics that he sent me:

(YUNA – Fading Flower)

You got that walk walk walk
Got that talk talk talk
Got that swagger-er-er
Such a glamour-our-our

You’re like a real life doll
With your hair that falls
Like niagara-a-a
But that don’t matter-er-er
Cause that don’t change the fact
That your heart is black

You can’t tear me down
Beat me to the ground
Try to block my sunshine
My blue skies with your clouds
And who do you think you are
Yeah that won’t get you far
You may think you’re pretty
But you’ll see that beauty
Is a fading flower

Fading flow-ow-ow-ower
Fading flow-ow-ow-ower

You’ll only play play play
If you get your way always
In the center-er-er
Of attentio-io-ion

All the lying
And the cheating
The mistreating
How you even sleep at ni-igh-igh-ight
Blows my mi-I-I-ind

I wonder when you’ll see
That you don’t bother me

Cause you can’t tear me down
Beat me to the ground
Try to block my sunshine,
My blue skies with your clouds
And who do you think you are
Yeah that won’t get you far
You may think you’re pretty
But you’ll see that beauty
Is a fading flower

Fading flow-ow-ow-ower
Fading flow-ow-ow-ower

I spent all of my youth
Trying to be you
Thought that you were special
That you were beautiful
But the more of you I see
The more I’m glad I’m me

Cause you can’t tear me down
Beat me to the ground
Try to block my sunshine
My blue skies with your clouds
And who do you think you are
Yeah that won’t get you far (that won’t get you far)
You may think you’re pretty
But you’ll see that beauty
Is a fading flower

Fading flow-ow-ow-ower (fading flower)
Fading flow-ow-ow-ower (fading flower)

Sheila on 7 (Lapang Dada)

apa yang salah dengan lagu ini
kenapa kembali ku mengingatmu
seperti aku bisa merasakan
getaran jantung dan langkah kakimu
kemana ini akan membawaku

kau harus bisa bisa berlapang dada
kau harus bisa bisa ambil hikmahnya
karena semua semua tak lagi sama
walau kau tahu dia pun merasakannya

di jalan yang setapak kecil ini
seperti ku mendengar kau bernyanyi
kau tahu kau tahu rasaku juga rasamu huuu

kau harus bisa bisa berlapang dada
kau harus bisa bisa ambil hikmahnya
karena semua semua tak lagi sama
walau kau tahu dia pun merasakannya

kemana ini akan membawaku
aku takkan pernah tahu

kau harus bisa bisa berlapang dada
kau harus bisa bisa ambil hikmahnya
karena semua semua tak lagi sama
walau kau tahu dia pun merasakannya

mengirim cahaya untukmu

Ibu Olahragawati? **Sehari medikal checkup di RS UNHAS**

Tags

, , , , ,

“Ibu Olahragawati Ya?” Tanya perawat yang sedang berdiri disamping tempat tidur saya. Saya agak kaget-kaget takjub ketika ditanya tiba-tiba oleh perawat di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin (RSUH) yang baru saja selesai melakukan pemeriksaan EKG pada saya. Dengan tatapan heran masih ditempat tidur, saya gagap menjawab,” eh…iya, pelari ka’ (Red: Iya, saya pelari)'”. Perawatnya tersenyum lalu mengangguk-anggukan kepala mahfum. “Pantasan Heart Rate’ta dibawah 60” (Red: Pantas saja Heart Rate Anda dibawah 60) sambil menyerahkan selembar kertas hasil pemeriksaan EKG pada saya.
Hari ini tepatnya tanggal 20 Maret 2014, saya beserta beberapa dosen maupun staff dari Universitas Hasanuddin mendapat surat panggilan untuk melakukan medikal checkup di Rumah Sakit Unhas yang juga merupakan Rumah sakit milik universitas berlambang Ayam Jantan ini. Medikal checkup ini rupanya jadi program wajib untuk diikuti seluruh dosen maupun staff di UNHAS. Saking wajibnya undangan pemeriksaan kesehatan yg saya terima beberapa hari sebelumnya sampai harus menggunakan nomor dan kop surat Unhas yg ditanda tangani langsung oleh Pembantu Rektor II. Disitu tertera nama dosen yg diundang plus pesan bahwa 12 jam sebelum pemeriksaan dosen ybs harus puasa dan jadwal pemeriksaan berlangsung dari jam 08.30 – 12.00 WITA.

Tepat jam 09.00 WITA pagi tadi saya sudah menginjakkan kaki dipelataran RSUH. Begitu masuk ke RSUH, dibagian Informasi saya sudah disambut ramah oleh resepsionis yang tersenyum manis begitu saya tunjukkan surat undangan pemeriksaan. Mbak Resepsionis berjilbab tsb lantas mengarahkan saya ke bagian poliklinik RSUH yang terletak di bagian belakang kanan meja resepsionis tersebut. Melangkahkan kaki kedalam poliklinik, saya disambut pemandangan antrian pasien maupun  pengantar pasien yang lumayan ramai sedang duduk dibangku-bangku ruang tunggu poli.

Image

Suasana di Ruang Tunggu Poliklinik RSUH

Dari pintu masuk poli, meja pendaftaran khusus Medikal Checkup Unhas (MCU-UH) sudah kelihatan dari jauh. Letaknya persis didepan poli Interna (penyakit dalam). Disitu sudah siap dua orang staff pria paruh baya yang akan meminta anda untuk mengisi form pendaftaran sesuai dengan kartu identitas yang digunakan untuk mendaftar. Jadi jangan lupa bawa KTP atau SIM atau paspor ya saat MCU disini ya. Kebetulan saat saya tiba, dibangku depan staff penerimaan tadi rupanya sudah ada dua dosen dari Fakultas Kedokteran, kedua-duanya lebih senior beberapa angkatan diatas saya diFK, dr. Dilam & satunya dokter pria (saya tidak sempat tanya namanya, padahal kami sempat ngobrol sama-sama tadi). Mereka sedang mengisi form pasien baru juga. Selain itu saya juga sempat berpapasan dengan beberapa dosen Fakultas lain yg saya kenal, pak Fiman Zaqi, Pak Mappe, Pak Eko, dr.Ilo, dan beberapa dosen senior yg saya kenali wajahnya tapi tidak tau namanya. **maap Bapak/Ibu dosen**. Tidak lama kemudian, salah satu staff pria yg melihat saya berdiri disamping mejanya rupanya sudah bisa menebak saya juga akan MCU, lantas mempersilahkan saya duduk di kursi sebelah kedua dosen senior tadi.

Sambil menunggu giliran mengisi, iseng-iseng saya foto kegiatan senior yg sedang mengisi form tersebut karena langsung tiba-tiba muncul ide untuk nulis diblog. Dan saat nulis diblog, tidak sah rasanya jika tidak melampirkan foto ini sebagai bukti otentik.

Image

Staff RSUH dibagian pendaftaran Medikal Checkup Unhas

Tidak berapa lama tiba giliran saya mengisi form pasien baru. Kedua dosen senior tadi sudah diantarkan oleh salah satu staff admission tadi ke ruang pemeriksaan pertama. Dengan khidmat saya mengisi semua pertanyaan dan mencentang kolom-kolom yang tersedia dalam formulir tersebut.

Image

Formulir dan SIM dengan foto pipi gembul;p

Formulir selesai diisi, saya juga lantas diantar oleh Staff pendaftaran ke ruang pemeriksaan darah dan urine yang jaraknya lebih kurang 10 meter dari meja pendaftaran tadi. Disitu saya menunggu sekitar 10 menitan sebelum akhirnya dipanggil masuk ke bilik pengambilan spesimen darah oleh seorang pria muda yg lengkap dengan masker dan sarung tangan sekali pakainya. Pria tersebut diam sejenak, sibuk menyiapkan beberapa tabung bening kecil untuk diisi darah dan satu botol transparan kecil untuk urine sambil tidak lupa menuliskan nama saya pada tabung2 tersebut. Setelah itu petugas tersebut menjelaskan dengan singkat prosedur yg akan saya lalui dan sensasi yg akan saya rasakan saat pengambilan darah. Lengan atas saya diikat menggunakan torniquet atau semacam tali karet untuk membendung pembuluh darah, lalu lengan saya diletakkan diatas bantalan empuk untuk menyangga, dan saya diminta mengepalkan tangan kiri seperti sedang menggenggam sesuatu. Darah saya diambil menggunakan spoit sekali pakai yg baru dibuka saat akan digunakan.

Image

Ilustrasi pengambilan darah vena

Walaupun sudah pernah mengambil darah pasien beberapa kali saat masih praktek  diRS dulu, namun jika giliran saya sendiri yang diambil darah, perasaan berdebar-debar dan ngeri itu tetap ada **hey, meski saya perawat, tapi saya juga punya rasa takut lah, hahaha”. Terlebih-lebih saat melihat jarum suntik mulai akan menembus kulit lengan saya yg halus, degup jantung serasa bertambah kencang. Hanya doa-doa dalam hati yang dan pengalihan fokus dengan memikirkan hal lain yang selalu bisa mengurangi rasa sakit yang tiba-tiba datang menyergap dibagian yang ditusuk. Cussss, darah langsung keluar dari pembukuh darah vena dan meluncur keruang hampa dalam spoit. Bye darahku……..sampai ketemu lagi kita yaaa, kirim email kalau dah nyamep #eeh

Pemeriksaan berikutnya berlanjut ke urine, saya diminta masuk ke sebuah toilet yg berada tepat disamping ruang pemeriksaan darah. Disini saya tidak terlalu mengalami kesulitan mengumpulkan spesimen urine. Karena walaupun sudah sempat ke toilet tadi pagi ternyata urine yg tertampung cukup banyak bahkan hampir meluber kemana-mana hehehe **blushing**. Berbeda dengan beberapa ibu-ibu dosen yang lebih duluan diperiksa sebelum saya, mereka sempat mengeluh sulit buang air kecil karena tidak ada keinginan untuk berkemih sama sekali, tidak heran urine yang mereka kumpulkan jumlahnya juga sedikit. Saya sendiri cukup senyum-senyum dikulum membayangkan kejadian urine meluber yg sekarang sudah berpindah kedalam botol. Oh ya, satu yang jadi concern saya ditempat pemeriksaan urine ini adalah tidak berfungsinya wastafel untuk cuci tangan, padahal tangan pastinya kotor setelah berurusan dengan spesimen urine dalam botol tadi. Selain itu juga tidak ada sabun antiseptik dan tissue saat mencuci tangan didalam toilet. Jadi keluar dari toilet saya agak-agak parno memegang hape saya mengingat ditangan saya bisa saja terikut sejumlah kuman tak terlihat dari toilet tadi.

Keluar dari ruang pemeriksaan darah dan urine saya kembali ke staff bagian pendaftaran tadi. Olehnya saya diarahkan ke poli THT. Sedianya saya seharusnya ngantri dulu diPoli Treadmill untuk pemeriksaan Elektrokardiografi (EKG) tapi karena pegawainya sedang ada pertemuan, maka jadinya berkas MCU saya di bawa ke Poli THT. Saat menunggu panggilan dipoli ini, saya bertemu teman dosen lain, dr. Yenni yg juga hari itu mendapat panggilan yg sama. Lumayan lama kami ngobrol sana sini sebelum akhirnya dipanggil masuk satu persatu ke dalam ruang pemeriksaan poli THT.

Didalam poli THT ini pemeriksaannya hanya sebentar sekali, tidak cukup 3 menit. Rasanya baru masuk pintu, eh langsung keluar lagi. Didalam hanya dipanggil nama, terus dokternya mengkonfirmasi ulang pekerjaan saya lantas menyuruh duduk dikursi pemeriksaan. Telinga kanan dan kiri lalu disenter untuk melihat ada kotoran telinga atau adakah sumbatan. Lalu dokternya kemudian bertanya, ada kelainan ditenggorokan, dan saya jawab TIDAK. Sudah begitu saja dan selesai.

Lah, perasaan saat kuliah dulu, jika latihan pengkajian THT, kayaknya banyak sekali jenis pemeriksaannya. Mulai dari anamnesa, inspeksi, palpasi, ditambah pemeriksaan telinga menggunakan otoskop, uji garputala atau tes audiometri, dll. Sampai-sampai saya dulu sempat ujian remedial gara-gara keliru menyebut nama jenis uji garputala dari uji Rinne menjadi Uji Weber **manyun**

Jarum jam sudah menunjukkan jam 10.30 dan baru tiga pemeriksaan yang terlewati, padahal masih banyak pemeriksaan yg harus dilalui jika merujuk ke daftar pemeriksaan yg tertera dihalaman depan berkas MCU. Karena tadi asyik ngobrol dengan dr.Yenni, makanya kami sepakat untuk jalan bareng saja ke poli-poli pemeriksaan berikutnya. Kan lebih enak ada teman jalan bareng biar bingung dan tersesatnya bareng-bareng juga, hehehe

Pemeriksaan berikutnya adalah diPoli Saraf dan EEG, tapi berhubung antrian mengular juga dan pemeriksaannya agak sedikit lama, maka saya dan dr. Yenni memutuskan ke lantai dasar RSUH untuk pemeriksaan Radiologi terlebih dahulu. Di basement kami sempat kebingungan mencari ruang poli Radiologi. Soalnya yg kami temukan pertama adalah papan plang Ruang Radioterapi. Kami bertanya pada staff dibagian penerimaan Radioterapi, rupanya Radiologi ada diseberang ruangan ini. Tapi setelah masuk ke ruang Radiologi, berkas MCU kami kemudian diarahkan kembali ke dalam ruang Radioterapi yg tadi pertama kami datangi. **garuk-garuk kepala bingung**.
Di ruang radioterapi utk pemeriksaan X-Ray, kami menunggu sekitar 20 menit sebelum dibawa masuk ke ruang X-Ray. Sambil menunggu, rupanya lambung yg sudah mulai berpuasa makan sejak jam 6 sore kemarin mulai bertingkah. Karena agak lapar, kami duduk mengunyah biskuit dan air putih yg memang sengaja masing-masing kami bawa dari rumah sambil menunggu panggilan masuk. Panggilan pertama X-Ray untuk dr.Yenni kemudian disusul saya.

Pada dasarnya prosedur di ruang X-ray ini sudah bagus, komunikasi petugasnya juga ramah dalam mengarahkan sesi pemeriksaan, petugasnya pun wanita jika pasien yg  diperiksa adalah wanita. Namun satu hal yg selalu membuat saya jadi kurang nyaman diruang X-ray adalah saat berganti pakaian.  Sudah berapa kali saya periksa X-Ray dibeberapa rumah sakit di Sul-Sel, mayoritas pengalaman berganti pakaian ini yang kurang menyenangkan bagi saya. Privasi kurang terjaga karena ruang ganti tidak benar-benar tertutup bahkan dilakukan langsung di dalam ruang pemeriksaan tanpa ada tirai atau penghalang. Hanya sekali pernah saya merasa nyaman saat melakukan pemeriksaan X-Ray di Inggris dulu. Ruang gantinya walaupun kecil seperti tempat fitting room di mall, tapi tertutup dab wangi. Pasien tidak merasa seperti sedang diawasi oleh kamera atau tatapan petugas disana. Saat sudah siap, saya tinggal diarahkan utk prosedur pengambilan foto Rontgen dada. Ini mungkin bisa jadi masukan bagi RSUH, paling tidak bisa ada partisi atau tirai untuk ganti baju lengkap dengan cermin didalam ruangan tsb. Sehingga saat pasien atau yg diperikas berganti pakaian bisa menjadi lebih nyaman dilakukan tanpa khawatir dilihat orang lain dan keluar ruangan dengan rapi, jilbab tidak mencong kiri kanan, dan rambut tidak awut-awutan seperti habis ditabrak angin, hehehe

Berikutnya kami kembali naik ke poli dilantai 1 tadi. Kami masukkan berkas MCU ke poli Treadmill untuk menunggu panggilan pemeriksaan EKG. Disini kami menunggu agak lama. Rupanya salah satu Ners penanggungjawab EKG disitu sedang tidak ada ditempat, makanya Ners dari poli Interna ditarik untuk menggantikan sementara. Ada sekitar 40 menitan kami menunggu sebelum akhirnya dipanggil masuk secara bergantian kedalam. Untungnya saya tidak sempat mengalami kebosanan yg hebat selama menunggu karena saya sempatkan membawa buku The Alchemist-nya Paolo Coelho untuk dibaca saat menunggu seperti ini **asyik baca buku – mengembara dari Andalusia ke Mesir bersama Santiago si gembala domba**.

Image

Ada yg lucu saat kemudian saya mendapat giliran pemeriksaan EKG. Didalam ruang EKG, disamping tempat tidur pemeriksaan ada treadmil. Pikiran pertama saya langsung, asyiiiik….lumayan nih bisa olahraga lari sebentar **siap-siap pemanasan**. Tapi angan-angan saya untuk lari langsung buyar ketika Ners-nya masuk dan dengan suara lembut meminta saya untuk berbaring ditempat tidur. Saya dengan wajah yg setengah kecewa hanya bisa menuruti permintaanya sambil tetap melihat treadmil yg nganggur tersebut, hikshikhiks. Pemeriksaan EKG sekarang ini sudah tidak serlalu seribet masa saya S1 dulu awal tahun 2000-an yg mesti pakai jelli untuk menempelkan elektroda. Yg sekarang cukup ditempelkan saja didada, akan menempel dengan sendirinya dititik2 sekitar jantung tanpa perlu membuka baju dan dalaman secara keseluruhan.

Image
“Ibu Olahragawati Ya?” Tanya Ners yang sedang berdiri disamping tempat tidur saya sesaat selesai melakukan pemeriksaan EKG. Dengan tatapan heran masih ditempat tidur, saya gagap menjawab,” eh…iyye, pelari ka’ (Red: Iya, saya pelari)'”. Perawatnya tersenyum mengangguk-angguk lalu menjawab “Ooh……pantasan Heart Rate’ta dibawah 60” (Red: Pantas saja Heart Rate Ibu dibawah 60 bpm) sambil menyerahkan selembar kertas hasil pemeriksaan EKG pada saya. Rentang Heart Rate(HR) normal adalah 60 – 100bpm, nah HR saya 53 bpm (beat per minute) bradikardi atau lebih lambat dari normal memang, namun dalam kondisi tubuh terbiasa terpajan dengan olahraga rutin misalnya lari, HR kurang dari 60bpm dapat diprediksi. Saya tersenyum sendiri. Hehehe, rupanya tidak sia-sia saya rutin lari bersama Komunitas Indorunners Makassar setahun terakhir ini. Rutin lari ternyata membawa dampak bagus pada kerja jantung dan bodi saya, bahkan dikira Olahragawati pula. Eh, olahragawati sama dengan atlet bukan ya?! hahaha **ke-GR-an**.

Jam sudah menunjukkan jam 12 siang dan masih ada beberapa pemeriksaan lagi yg harus kami lalui. Masih ada poli Saraf & EEG, poli mata dan poli interna. Diantara ketiga poli tersebut yg terjangkau saat ini adalah bagian Saraf & EEG yg sebenarnya bersebelahan dengan poli THT. Antrian dibagian ini sudah berkurang makanya kami cepat mendapat giliran utk diperiksa. Disini kami temui seorang dokter dan Ners yg kebetulan alumni dari Unhas juga. Didalam kami langsung di anamnesa dan diberikan ujian tulis. dr. Yenni diminta menggambar bentuk, menghubungkan angka dan huruf, mengenali benda, menggambar jam 11.10 sedangkan saya ditanya-tanya tentang pengurangan dari angka 100-6-7-3, dst kemudian mengingat lima kata yg disebutkan dokter tersebut untuk diulang lagi berikutnya setelah lewat 2 menit. Saya juga diminta menyebutkan 10 kata yg berawalan huruf S, tapi tidak boleh nama orang atau nama tempat.

Pada pemeriksaan saraf ini saya sempat salah dua kali. Pertama saat diminta mengulang lima kata yg disebutkan dokternya, saya hanya mampu mengingat tiga kata terakhir. Dua kata didepan, bisa saya ingat setelah dokternya memberikan clue atau kata kunci. Kesalahan kedua, saat saya diminta menggambar sebuah benda dikertas. Instruksinya adalah gambarkan jam yg menunjukkan waktu 11.10. Tanpa merasa berdosa sy dengan PD menggambarkan jam bundar lengkap dengan angka 1-12, dimana jarum pendek sy gambarkan menunjuk pada angka 11 dan jarum panjang di angka 10 *TETOOOT! salah hahaha** . Untung dokternya baeji mengingatkan saya bahwa ada yg perlu diperbaiki dari gambar saya dan meminta saya menggambar ulang. Kata saya: “Dok, coba saya disuruh gambar gunung dan sawah lengkap dengan jalan ditengahnya, pasti betulmi itu gambarku dok**. Dan dokternya pun hanya bisa geleng-geleng kepala.

Jujur saya akui memang sejak kecil saya memiliki masalah dengan short term memory atau memori jangka pendek. Kadang saya mudah lupa pada peristiwa yang baru saja terjadi, namun kondisi mudah lupa ini tidak terjadi untuk memori jangka panjang. Nah untuk mengakali kekurangan di short term memory ini, kadang saya menggunakan metode Jembatan Keledai yg ada di Quantum Learning atau memvisualisasikan kata atau kalimat agar mudah diingat oleh otak saya yang mungil ini. And it usually worked! Sayangnya untuk mengingat lima kata tadi, saya hanya fokus memvisualisasikan tiga kata terakhir **Alibi**

Sebenarnya kami masih ingin melanjutkan ke pemeriksaan berikutnya agar MCU hari ini rampung semua. Sayangnya karena jam kerja dipoli hanya berlangsung sampai jam 11-12, maka niat tersebut terpaksa kami urungkan. Jam sudah menunjukkan hampir jam 13.00 WITA. So terpaksa kami simpan saja dulu berkas MCU kami dibagian pendaftaran tadi. Kata si Bapak dibagian pendaftaran biasanya dokter, ners dan pegawai registrasinya sudah tidak ditempat jam-jam segini. lebih baik kembali lagi besok untuk melanjutkan di bagian Poli mata dan poli interna. Baiklah….berhubung perut juga sudah setel musik Linkin Park yg menghentak-hentak minta diisi, terpaksalah kami tinggalkan RSUH. Besok datang lagi, pagi-pagi tentunya, biar dapat antrian lebih pagi dan lebih duluan selesai.

Video

Selamanya Akan Terukir di Bintang

Tags

, , , , , ,

Selain lagu Christina Perry “A thousand Years” lagu yang selalu gak akan pernah bosan-bosannya saya dengarkan adalah lagu milik Yuna “Terukir di Bintang”. Lagu ini liriknya sederhana, tapi maknanya dalam banget. Meski sedang tidak sedang jatuh cinta saat pertama kali dengar lagu ini, tapi entah mengapa saya langsung merasa sedang jatuh cinta saat menikmati lagu ini juga dengan video latarnya yg dishot di Europe. Bikin senyum-senyum galeter sendiri, hahaha. Pokoknya sukaaaaa sangat lagu ini.

**YUNA – Terukir di Bintang**

Jika engkau minta intan permata
Tak mungkin ku mampu
Tapi sayangkan ku capai bintang
Dari langit untukmu

Jika engkau minta satu dunia
Akan aku coba
Ku hanya mampu jadi milikmu
Pastikan kau bahagia

Hati ini bukan milik ku lagi
Seribu tahun pun akan ku nanti
Kan kamu

Sayangku jangan kau persoalkan
Siapa dihatiku
Terukir di bintang
Tak mungkin hilang cintaku padamu

Hati ini bukan milik ku lagi
Seribu tahun pun akan ku nanti
Kan kamu

Sayangku jangan kau persoalkan
Siapa dihatiku
Terukir di bintang
Tak mungkin hilang cintaku padamu

Sayangku jangan kau persoalkan
Siapa dihatiku
Terukir di bintang
Tak mungkin hilang cintaku padamu

Terukir di bintang
Tak mungkin hilang cintaku padamu

Video

Kelas Inspirasi Sulawesi Selatan 2014

Tags

, , ,

Kelas inspirasi adalah gerakan volunteer nasional yang diselenggarakan oleh Yayasan Indonesia Mengajar. Kegiatan ini dilakukan oleh para professional dari berbagai bidang dimana mereka datang ke sekolah-sekolah dasar selama sehari untuk berbagi kepada anak-anak tentang pekerjaan atau profesi mereka. Saya sangat beruntung bisa terpilih untuk kegiatan yang sangat inspiratif ini setelah melalui saringan essay secara online.
Semoga tahun depan masih bisa ikut kegiatan ini lagi.

Kelas Inspirasi: sehari berbagi, seumur hidup menginspirasi.

Pengalaman Mengurus Visa Jepang di Makassar (1)

Tags

, , , , ,

Pagi ini saya punya gawe mengurus visa Jepang dikantor Konsulat Jepang yg terletak di Jl. Jend. Sudirman no. 31 Makassar. Jam 9 pagi saya sudah memacu motor matik kesayangan saya menuju konsulat sambil membawa segepok dokumen yg dibutuhkan untuk pengurusan visa tersebut. Agak was-was karena baru kali ini sendirian mengurus visa Jepang. Dua visa sebelumnya saya selalu dipermudah. Pertama visa saat akan sekolah ke Australia diuruskan oleh pemberi beasiswa yaitu AusA**, sedangkan visa ke UK meskipun harus ngurus langsung ke Jakarta, tapi saat itu saya ditemani oleh sahabat karib saya Ika, yg saat ini sedang melanjutkan pendidikan PhD di Ehime University, Matsuyama Jepang. Entah kenapa saya suka cemas duluan kalau mau berurusan dengan birokrasi, belum lagi perasaan takut nyasar, Jakartaphobia, dll.

Oh iya, saya ngurus visa Jepang ini dalam rangka menghadiri international Conference tanggal 27-31 Maret 2014 di Osaka Jepang. Saya akan mempresentasikan hasil penelitian saya saat S2 diUK kemarin. Berhubung waktu keberangkatan sudah dekat, izin dari kampus tempat saya bekerja sudah dapat, maka akhirnya proses berlanjut ke pengurusan izin untuk masuk ke Jepang. Dan ini yang paling krusial dari sebelum berangkat ke Jepang. No Visa, no entry. Titik.

Saat tiba dilokasi Kantor Konsulat Jepang Makassar, saya sempat kebingungan mencari jalan masuk menuju kantornya. Bagaimana tidak, seluruh kawasan kantor konsulat tsb ditutupi pagar besi putih tinggi. Nggak jelas jalan masuknya lewat mana karena sepertinya tidak ada tanda-tanda kehidupan dibalik pagar pembatas tersbut. Akhirnya daripada tersesat, saya singgah bertanya pada bapak-bapak yang sedang minum kopi di kios depan kantor konsulat tersebut. Saya lalu ditunjukkan sebuah pagar tidak jauh dari kios tadi. Disana, sudah ada security berbaju warna biru gelap yg rupanya sudah bisa menebak bahwa saya kebingungan mencari jalan masuk ke konjen tersebut.

Saya lalu dipersilahkan masuk melalui pintu pagar kecil dengan terlebih dahulu memarkir motor diluar areal konjen, tepat didepan pintu gerbang masuk tadi.
Dibalik pagar konjen, bangunan pertama yg saya temui adalah gardu security. Disitu saya disambut oleh satu orang security berkumis yg bertanya apa keperluan saya dan meminta ID card saya sambil mencatat sesuatu dibuku tamu. ID yg saya berikan adalah SIM mengingat KTP nanti akan saya gunakan untuk kelengkapan dokumen visa. SIM berikut hape juga harus ditinggal. Sebagai gantinya tiap tamu akan diberikan name tag yg bertuliskan huruf Jepang yg entah apa isinya dan kartu nomor penitipan hape. Hiks…bye hapeku, kita berpisah untuk sementara dulu yaaaaa…#lebaymodeON
Tas punggung tetap bersama saya, tapi harus masuk ke mesin X-Ray dulu yg berada tepat diruang sebelah kanan tempat penitipan hape tadi. Pak security disini bertanya apa saja isi tas saya, saya jawab hanya buku dan peralatan tulis serta onderdil lain yg tidak berbahaya. Untung tadi sebelum berangkat menuju konjen, benda2 tajam seperti gunting dan jarum sudah saya keluarkan dari tas. Eits, jangan mikir yang aneh-aneh dulu ya, benda-benda itu terbawa ditas saya karena dua hari yang lalu saya ikut Kelas Inspirasi Makassar 2014. Gunting dan jarum tsb milik salah satu teman relawan pengajar yang digunakan untuk acara pelepasan balon cita-cita dimana ada sesi seluruh anak-anak SD menuliskan cita-citanya diselembar kertas origami lalu dijahit menggunakan benang dan gunting ke balon gas. So….karena pernah mengalami pengalaman barang-barang kecil seperti ini disita saat ngurus visa UK di Jakarta, makanya pagi tadi benda2 tersebut sudah saya removed dari tas saya lebih dulu. Pfiuuuuh…#lapkeringat

Setelah selesai di bagian X-Ray tas, saya lalu diantar keluar dari gardu security melalui pintu belakang menuju sebuah bangunan yang seperti rumah-rumah Belanda jaman dulu. Seluruh dindingnya berwarna putih. Tak ada tampak orang lain yang berseliweran dihalaman yang cukup luas tersebut. Sunyi, senyap dan lengang…….**hening**. Saat saya berjalan beriringan dengan securitynya, si Bapak yg saya perkirakan berumur 30-an ini pun lebih banyak diam dan hanya berbicara seperlunya. Saya sempat nyeletuk “wah sepi banget ya Pak ya? Orang-orangnya pada kemana?” si Bapak hanya menoleh dan tersenyum tipis ke saya sambil tetap jalan disamping saya. Hiks….gak dijawab **emoticon berurai air mata**. Mungkin si Bapak sudah biasa menghadapi pertanyaan yg sama dari tamu-tamu sebelumnya dan hanya seperti basa-basi yang cukup dibalas dengan senyuman tipis.

Kami lalu sampai di depan pintu bangunan, disitu si Bapak lalu mengetuk sekali. Tak lama seorang pria berpakaian security yg sama membuka pintu dan mempersilahkan saya masuk. Security ketiga ini berperawakan sedang, tampak lebih muda dari yang mengantar saya tadi. Tanpa berkata-kata hanya mengangguk hormat, lalu mempersilahkan saya duduk disebuah meja kecil dengan empat buah kursi. Saya lalu duduk, meletakkan tas diatas meja dan memperhatikan sekeliling. Di meja yang sama persis depan saya ada seorang ibu usia paruh baya, sedang menulis sesuatu di kertas. Saya lirik kop suratnya, ternyata form visa aplikasi visa juga. Mau saya tegur tapi tidak enak karena sepertinya sedang serius sekali.

Saya lalu berbalik pada security yg berdiri tepat depan pintu tadi, bertanya. “Pak, kalau mau ngurus visa Jepang daftar dimana?” Si Bapak dengan sigap lalu menghampiri saya, dengan langkah efisien dan suara pelan menunjuk pada contoh-contoh dokumen yg tertempel didepan saya, tepat dibalik punggung ibu yg sedang menulis tadi. “Ibu sudah lengkap dokumennya? Coba lihat daftarnya disini. Ini semua yg perlu dilampirkan dan disusun sesuai nomor urutannya untuk mendapatkan visa Jepang”.
Saya lalu berdiri menuju ke tembok yg diarahkan security itu. Disitu ada meja juga yg langsung menempel ke tembok. Saya ajukan pertanyaan lagi. “Pak, ada bagian diform Visa yg saya bingung ngisinya. Dibagian Guarantor dan Inviter ke Jepang, itu gimana ngisinya ya kalau pengundang adalah organisasi?” “Tunggu sebentar Bu” kata si Bapak tampak kebingungan. Dia lalu dia menekan telepon dan berbicara pada seseorang diujung telepon dan memberikannya pada Saya. “Hallo bu, ada yg bisa saya bantu?” sapa suara wanita di ujung sana. “Iya bu, ini gimana cara nulis bagian Guarantor dan inviternya? Soalnya di form ini sepertinya ditujukan untuk individu, karena ada isian ttg date of birth dan gender pengudang. Trus, kalau organisasi gimana nulisnya?” ujar saya. “Cukup isi nama organisasi, alamat dan hubungan dengan organisasinya bu. Gak perlu isi bagian yg lainnya”. Jawab Mbak yg ada ditelfon.

“Oh gitu? Baiklah. Tapi untuk hubungan dgn organisasi saya tulis participant of Conference gak papa ya? “Iya, begitu aja boleh kok” Si mbak menjawab lagi. Oke kalau begitu, terima kasih mbak.” Telepon pun saya tutup

Dokumen yg saya bawa lalu saya urutkan lagi sesuai list yg ditempel di dinding depan saya. Sebenarnya sih sudah terurut sejak semalam sesuai list yg saya baca sebelumnya dari website Konsultas Jenderal Makassar di link ini, tapi biar kelihatan ada kesibukan dan demi memastikan ulang kelengkapannya, maka saya ulang lagi mengurut dokumennya dari awal. #nyari2kerjaan

Untuk Anda yg mungkin nanti berencana apply visa untuk konferensi ke Jepang, berikut dokumen yang dibutuhkan sesuai urutan dalam daftar dari Konjen Jepang di Makassar:

  • Paspor asli yg masih berlaku
  • Form aplikasi visa (download dari sini). Pada halaman depan form ini applikan diminta menempelkan satu foto ukuran 45mm x 45mm atau 2inchi x 2inchi. Tapi karena nda punya yg sama persis ukuran seperti itu, makanya saya tempelkan saja foto warna 4×6 dengan latar belakang warna putih (foto saat ngurus visa UK dulu). Eh, ternyata diterima. 
  • KTP asli
  • Foto kopi kartu keluarga
  • Foto kopi akte kelahiran
  • Surat keterangan dari tempat kerja (surat izin dari rektor atau wakil rektor)
  • Bukti keuangan pemohon (bisa dalam bentuk fotokopi tabungan terakhir atau rekening koran tiga bulan terakhir). Dalam kasus saya, berhubung seluruh biaya konferensi ditanggung kampus, maka surat dari pimpinan yg mengatakan seluruh biaya registrasi, biaya harian dan biaya tiket ditanggung kampus, itu sudah lebih dari cukup sebagai bukti bahwa disana saya akan aman sejahteran lahir dean bathin dan gak bakal jadi gelandangan hahaha. Jadi saya tidak lampirkan lagi rekening koran tabungan saya.
  • Bukti pemesanan tiket. Untuk bukti pemesanan tiket ini gak papa kalau masih hasil print out perjalanan tentative. Kebetulan untuk tiket ini dihandle langsung oleh pihak kampus. Oleh karena itu saya hanya minta tolong dibookingkan saja tiket pesawat oleh staff di Fakultas. Untuk tiket sebenarnya nanti pada saat sudah dekat-dekat hari H baru saya minta dibookingkan ulang lagi oleh kampus.
  • Jadwal kegiatan selama di Jepang. Nah kalau dokumen yg ini dikeluarkan langsung oleh pihak IAFOR Jepang selaku penyelenggara Konferensi ACP 2014 di Osaka. Well sebetulnya saya sendiri sih yg ngisi form ini. Tapi kemudian akan diberi stempel oleh pihak IAFOR Jepang lalu dikembalikan lagi pada saya dalam bentuk pdf. Isi jadwal kegiatan ini dibuat dalam tabel. Dikolom pertama hari/Tanggal, kolom kedua detail akfitas selama disana dan kolom ketiga akan tinggal dimana selama kegiatan tersebut berlangsung. Jika akan pindah beberapa kali selama tinggal disana, maka harap dituliskan juga alamat tempat atau detail yg akan didatangi. Contoh detailnya bisa dilihat diblog ini
  • Letter of invitation (LOI). Untuk dokumen ini dikeluarkan oleh organisasi pengudang yaitu IAFOR Jepang, makanya ada stempel warna merah tulisan kanji jepang (gak ngerti apa arti stempelnya). Isi LOI menjelaskan dalam rangka apa kita diundang ke Jepang dan berapa lama akan berada di Jepang. 
  • Letter of acceptance (LOA) yg menuliskan bahwa paper saya diterima untuk Oral Presentasi.

Semua dokumen diatas ini lalu saya susun berurutan dan dimasukkan dalam map bening. Saya kembali duduk dimeja awal saat saya datang tadi. Si ibu yg pertama nulis-nulis tampaknya sudah selesai. Dia lalu senyum dan menyapa saya. “Mau ke Jepang Dek?”. “Iya bu” kata saya sambil senyum. “Mau menghadiri konferensi di Osaka. Kalau Ibu sendiri?”. “Saya mau liburan Dek, mengunjungi keponakan di Kyoto. Mau liburan dua mingguan disana. “Waah asik dong Bu, berapa lama?” kata saya penuh semangat. “Dua mingguan dek, sekalian lihat sakura lagi mekar di Jepang”. katanya penuh semangat.
Setelah ngobrol ngalor ngidul dengan suara pelan, tidak lama kemudian si Ibu dipanggil oleh staff yang ada dibalik kaca. Ada dua orang staff wanita saya perhatikan disana. Satu mengenakan jilbab, satunya lagi tidak. Dua-duanya orang Indonesia. Si Ibu lalu bergegas menuju konter kaca tersebut. Dia menyerahkan setumpuk dokumen yg sama seperti yg saya miliki. Saya masih tetap duduk takzim ditempat duduk saya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, mencari kesibukan sendiri agar tidak bosan karena tidak ada hape bersama saya.
Ruangan ini seperti perpustakaan karena ada 2 meja baca panjang ditengah-tengah ruangan, selain meja kecil tempat saya duduk sekarang. Meja saya dipisahkan dengan meja baca oleh sebuah pembatas kayu yang berfungsi sebagai rak buku dan brosur. Di bagian kanan saya terpasang beberapa rak yg juga berisi brosur dan buku-buku tentang Jepang. Kata Bapak security brosur boleh dibawa pulang, tapi buku hanya boleh dibaca ditempat. Didekat tempat masuk tadi ada satu lemari yang berisi boneka boneka Jepang yg biasa terpajang seperti dirumah-rumah orang Jepang. Dibagian atas meja baca tadi ada ratusan kertas origami warna -warni berbentuk bebek. Ratusan bebek kertas tersebut disusun dalam seutas tali yg digantung menyerupai lampu hias diruang tamu. Kreatif. Sayang sekali tidak bisa mengabadikannya, karena hape musti dititip digardu security pemirsa. **manyun**

Ada hal yg menarik yg saya perhatikan disana. Baik staff maupun security bicaranya pelan dan halus. Kami sebagai tamu pun ikut-ikutan berbicara seperti orang berbisik-bisik. Entah mengapa, tapi suasana dan aura didalam ruangan yg membuat tamu juga ikut-ikutan seperti itu. Saya yg biasanya selalu heboh dan ribut jika berada disuatu tempat, juga ikut-ikutan berbicara dengan suara rendah. Mau menggeser kursi saja agak sungkan karena takut suaranya mengganggu ketenangan suasana diruangan yg benar-benar senyap. Membalik-balik halaman majalah saja sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Benar-benar tenang seperti dihutan deh pokoknya.

Si Ibu yg tadi dipanggil menuju counter kaca, tidak lama kemudian kembali ke meja saya. Dia diberikan dua lembar kertas. Oh ya, tadi kalau tidak salah si Ibu ini diminta menambahkan satu lagi dokumen yg masih kurang. cuman dokumen jenis apa saya nda jelas, karena perhatian saya teralih ke majalah tentang Osaka yg sedang saya baca.

Saya pun juga akhirnya mendapat giliran dipanggil oleh staff dibalik counter. Dibalik counter itu ada staff wanita yg mengenakan jilbab panjang abu-abu. Saya lalu menyapa dan tersenyum. Si mbak juga senyum. Dia lalu meminta saya memasukkan dokumen2 saya melalui sebuah lubang didepan saya melalui kaca pembatas yang memisahkan saya dengan si mbak.

Setelah itu saya diminta untuk duduk kembali menunggu ditempat semula. Si Mbak berjilbab menuju kesatu tempat sambil membawa dokumen saya. 2 menit kemudian, dia kembali nongol dicounter lalu menyodorkan dua lembar kertas, ktp asli saya dan map bening yg saya gunakan untuk menyimpan dokumen2 tadi. “Dokumen saya lengkap Mbak?” tanya saya. “Iya, lengkap kok”. Alhamdulillah….

Dua lembar kertas yg diberikan pada saya rupanya sama dengan lembaran yg diberikan pada ibu tadi. Satu kertas berisi pernyataan-pernyataan dari pihak Konsulat Jepang Mksr ttg visa yg harus kita tanda tangani jika setuju, dan kertas satunya lagi berisi checklist dokumen yang sudah dikembalikan oleh petugas, yaitu KTP asli. Setelah saya isi, lalu saya kembalikan lagi pada mbak dibalik counter kaca.

Terakhir sebelum pulang si Mbak ngasih lagi selembar kertas ke saya sambil. Isinya adalah tanggal terima dokumen dan kapan saya harus kembali ke konjen untuk mengambil paspor dan visa saya (lihat gambar dibawah). Kembali kesini tanggal 12 Maret ya Mbak, antara jam setengah dua siang sampai jam setengah lima. Pembayaran visa sebesar 350rb nanti dibayar saat pengambilan visa. Saya mengangguk dan mengucapkan terima kasih lalu meninggalkan counter. Hmmm…benar deh seperti tulisan di website konjen Jepang di Makassar, SOP mengurus visa Jepang diKonjen Makassar hanya makan waktu 4 hari kerja. Benar-benar efektif dan efisien deh staff disini. **applaus**
So, karena hari ini adalah hari Jumat, berarti saya balik lagi ntar hari Rabu tanggal 12 Maret 2014.

Image

Setelah mengucapkan terima kasih, saya lalu dipersilahkan meninggalkan ruangan oleh si Mas security yg dari tadi berdiri didekat pintu keluar. Diluar pintu, sambil berjalan menuju gardu security, saya sempatkan melihat sekeliling gedung kantor tadi. Ada tiga mobil sedan mewah berjejer diparkiran dalam pagar. Entah milik siapa, mungkin milik staff atau pimpinan konjen disitu. Sekali lagi suasana tampak lengang, tidak ada orang disekeliling. Pagar besi menjulang tinggi disekeliling bangunan kantor, sehingga suasana hiruk pikuk jalan protokol didepan konjen sama sekali tidak terasa. 

Di gardu security saya lalu menyerahkan name tag dan nomor kartu yg tadi diberikan pada saya. Hape saya lalu dikembalikan dan segera saya keluar meninggalkan kantor konsulat melalui pintu gerbang kecil tempat saya datang pertama tadi. Mudah-mudahan semua lancar dan dimudahkan dan Rabu saya sudah bisa menerima visa saya sebagai tanda saya boleh masuk ke Jepang untuk mengikuti Konferensi dan bertemu sahabat karib saya, Ika. Amiiin

Status

Do I missed you?

Ada yg sesak menghimpit di dada jika seraut wajah itu hadir diruang sempit kepalaku. Wajah bersahaja yg selalu tersenyum penuh bijak dan memanggilku kakak meski usianya jauh diatasku.
Wajah yg bisa membuatku senyum cengengesan sendiri kala sedang mengingatnya. Tempatku berkeluh kesah dan berbagi cerita saat kepalaku ini berasa ingin meledak.
Wait wait wait….kaukah itu Mr. Rindu?
image