Memories of Numbers

(Private Picture : Me & Lisa feat The Opera House)

Sejak seminggu lalu, setiap kali ngirim atau terima sms, selalu ada muncul pemberitahuan bahwa quota penyimpanan sms dihape telah melebihi 95%. Karena terasa menganggu, maka saya mulai milih-milih sms mana yg harus dilenyapkan dari muka bumi ini. Sepertinya ada ratusan sms, gak tau berapa persisnya. Bahkan sms pertama yg saya terima pada saat saya baru saja membeli hp SE K800ini dua tahun silam (7 November 2006) masih tersimpan smpai sekarang, hiks….terharu.

Dari memilah-milah sms ini, saya baru nyadar kalo ternyata nomer Hp yang pernah saya gunakan lumayan banyak juga. Dan tiap-tiap nomer masih bisa saya ingat kisahnya masing-masing.

Nomer HP pertama:+6281342514257 (2001-Maret 2006)
Masa ini masa kuliahan. Pertama kali punya Hp saat itu Nokia 3315, lalu N3200 dan terakhir N3600. Beli nomer ini karena nomernya cantik bede’. Gampang diingat. Semester demi semester berlalu, Hp ganti beberapa kali tapi nomer tetap setia pada yang satu(*hug myself*).

Nomer Hp kedua: +6281344299199 (Maret 2006 – 16 Juni 2006)
Nomer ini sebenarnya punya adek saya diPapua, tapi karena nomernya cantik, jadi dengan menggunakan alasan “kakak jauh lebih butuh” akhirnya nomer ini berpindah tangan. Nomer pertama diatas mati gara-gara saya lupa register. Lalu nomer ini juga terpaksa saya ganti karena harus kuliah diAustralia. Otomatis terpaksa ganti dengan nomer ostrali dong. Kalo mo maksa pake nomer Indo, bisa juga sih, tapi bayarnya gak kuat, padahal roaming internasionalnya dah diaktifin juga. terpaksa deh, bye nomer cantik, hiks hiks hiks….

Nomer Hp ketiga: +61431419700 (16 Juni 2006 – 29 Desember 2007)
Dilihat dari kode negaranya, jelas ini bukan nomer indonesia. Pertama beli ditemani sama teman Indonesia yang tinggal diSydney. Nama operatornya Optus, kalo diindo yaaaa….mirip-mirip (gaaaaaaaaaaaak!!!) dengan operator Indo yg spoke personnya Indra Bekti ma Sandra Dewi kaleee. Registernya agak-agak ribet, coz mesti pake pasport plus alamat permanen diOstrali. Trus, daftarnya juga mesti kudu menyimak baik-baik apa aja pertnayaan operatornya coz yang melayani pendaftaran kita tuh bukan mesin, tapi orang beneran yang berbahasa Inggris. Nah, buat mereka yang punya masalah dengan pendengaran bahasa inggris, mending minta didaftarin deh. Syukur-syukur dapat operator orang ostrali yang bahasa inggrisnya bulet, kalo dapet orang India (**sambil goyang-goyang kepala**), alamaaaaaaaaak…..yang ada kitanya cuma bisa bilang “Sorry…Say again?!” atau “What…What…What?! (**dengan wajah frustasi**). Nomer ini otomatis terblocked; gak bisa memanggil maupun dipanggil, ketika saya menjejakkan kaki kembali di Indonesia setelah tinggal diluar selama 1.5 tahun.

Nomer Hp keempat: +61424481985 (7 Nov 2006-29 Desember 2007)
Sebenarnya selama diOstrali, satu nomer Hp sudah cukup buat saya. Tapi pada saat beli Hp SE K800i, nomer ini juga turut serta sebagai bonus. Operatornya berbeda dengan nomer saya yang ketiga. Kali ini operatornya Vodaphone. Jarang saya gunakan sih, hanya sekali-kali saja saat credit (voucher pulsa) di nomer ketiga (optus) udah minus. Sama halnya dengan nomer ketiga, nomer inipun otomatis mati begitu saya kembali ke Indonesia.

Nomer Hp kelima: +6281241013382 (Jan-Feb 2008)
Nomer ini saya beli karena suka dengan lima nomer terakhirnya. bulan dan tahunnya mirip dengan ulang tahun saya. bedanya ada pada tanggalnya, saya udah nyari ditoko yang menjual nomer tersebut, tapi nomer yang sama persis dengan ultah saya gak ada. Bukan jodoh kali Ya’. Nomer ini kemudian beralih ke tangan adek saya yang bungsu (**Kakak mendapat balasan karma**), setelah saya gunakan selama satu bulan.

Nomer Hp terakhir: +62813195929** (29 Des 07-sekarang)
Nomer ini adalah nomer yang saya gunakan saat ini. Belinya secara gak sengaja dibandara Sukarono-Hatta Jakarta. Itupun belinya karena gak ada pilihan lain. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, sesaat setelah menjejakkan kaki kembali ke tanah air, nomer luar saya tiba-tiba terblocked. Gak bisa dipake sama sekali, padahal didalmnya masih ada credit (voucher pulsa) sebesar A$80 yang kalo dirupiahkan jumlahnya sekitar Rp. 640rb (hiks….kembalikan duit rupiahkuuuuuuuuuw!!!). Saat itu saya dilanda kepanikan sebab saya sudah membuat janji dengan beberapa teman yang ada dijakarta untuk bertemu saat saya transit satu jam dibandara Jakarta. Saat kebingungan, tiba-tiba saja datang seorang bapak yang menawarkan jasanya mencarikan nomer hp perdana (lha…kok dia bisa tau kalo saya butuh nomer baru yak?). Saya mengiyakan saja, karena betul-betul butuh saat itu juga. Walaupun harga yang ditawarkan mahal, akhirnya saya beli juga deh. Naaah….gitu deh cerita dibalik nomer-nomer yang pernah saya pake. Maaf nomer terakhir gak saya munculkan utuh, takut tiba-tiba dibanjiri nomer asing yang penasaran apa benar saya pake nomer ini atau gak (hehehe…mendadak kena serangan gila nomer lima: NARSIS abeeeeess….)

The Match Maker

(Picture is taken from here)

Mungkin karena sudah capek melihat saya asyik dengan status “jomblo”, teman-teman kantor sibuk mencarikan jodoh buat saya. Dah terlalu sering saya dengar mereka merekomendasikan teman-temannya yang bernama pria, cowok atau man ke saya. Biasanya untuk menolak secara halus, jawaban saya cuman tersenyum sambil said “kenalin ke teman yg lain aja deh”. Bukannya kenapa-kenapa, buat saya urusan hati maupun jodoh gak bisa dipaksakan. Saya emang gak pingin pacaran sebelum nikah, tapi bukan berarti saya juga mau aja tiba-tiba disuruh nikah sama orang yang saya gak kenal sama sekali sebelumnya. Seperti yang baru-baru saja terjadi sekitar beberapa minggu lalu.

Saat itu teman akrab saya dikantor, sebut saja inisialnya D. D ingin saya bertemu dengan teman lama suaminya dengan inisial R. Saya memang belum pernah bertemu dengan R sebelumnya. Oleh suami D, nomor Hp saya diberikan ke si R tadi. Beberapa hari kemudian saya ditelepon oleh R, yaaa….istilahnya sih perkenalan pendahuluan. Ngobrol ngalur ngidul sampai kemana-mana. Ok lah saya masih terima, coz kalo gak ntar dikira gak sopan lagi. Nah, dari hasil ngobrol ini, saya tau kalo ternyata R ini juga turut mendaftar penerimaan CPNS 2008. Kebetulan saya juga memang ikut daftar tahun ini. Itu berarti kami akan ketemu pada saat ujian CPNS minggu depannya.

Beberapa hari sebelum test, R jadi rajin mengirim SMS. Saya karena emang dari sononya agak sedikit cuek kalo urusan SMS-an, jadinya hanya menjawab sekenanya saja. Oia, disitu R mengutarakan niatnya untuk bertemu sesaat setelah ujian CPNS selesai.

Saat hari test tiba, saya beritahukan pada teman saya D (kebetulan D ikut test CPNS juga) ttg niatan R bertemu saya selepas test. D pun berjanji akan menemani saya saat bertemu dengan R. Selepas test, akhirnya saya bertemu dengan R. Jujur, secara fisik gak ada yang kurang dari R. Orangnya putih, tegap, sopan dan wlaupun gak tinggi-tinggi amat, Rata-rata lah, sudah punya kerjaan tetap, pendidikannya juga sudah selesai S2 dan sebentar lagi akan langsung melanjutkan pendidikan S3nya. Kami bertiga sempat ngobrol lama sambil makan-makan dikantin fakultas. Namun, jujur saya katakan gak ada “chemistry” sama sekali yang bisa saya tangkap dari pertemuan pertama itu. Dan dari pertemuan pertama ini, ada beberapa hal yang fundamental yang membuat saya jujur “ill feel” dengan R ini. Ini membuat saya menjadi tidak nyaman dan ingin kabur dari pertemuan itu sesegera mungkin.

Saya tahu gak boleh menjudge orang hanya dari pertemuan pertama saja, tapi saya rasa feeling & intuisi pribadi juga gak boleh diabaikan. Saya orang yang percaya dengan intuisi. Dan sepanjang pengetahuan saya, intuisi saya jarang salah dalam memutuskan sesuatu. Inilah yang saya rasakan, saya nggak nyaman dengan perjodohan semacam ini. Saya ingin semuanya mengalir apa adanya, gak perlu diatur-atur. Hanya ingin membuat saya berontak. Jujur, dari beberapa orang yang pernah dekat dengan saya, rata-rata mereka berangkat dari status teman biasa, gak ada yang tiba-tiba love at the first sight. Jadi mereka-mereka ini udah ketahuan sifat aslinya kayak gimana, gak ada yg dibuat-buat, wong kalo sama teman kita cenderung apa adanya bukan?! Ya udahlah, buat teman-temanku, saya ngerti niat kalian baik dan tulus ingin mencarikan saya jodoh. saya sangat berterima untuk semuanya itu. Tapi sepertinya saya masih merasa nyaman sendiri saat ini, so gak perlu repot-repot dicariin lagi ya. Udah ada kok Yang Diatas, yang jauh berlipat-lipat kali expert sebagai “The Match Maker”.

 

Pride & Prejudice

(Picture taken from here)

Merunut dari judul diatas, saya bukannya ingin bercerita tentang hubungan cinta unik antara Mr. Darcy dan Miss Lizzy dalam film romantis Pride & Prejudice. Melainkan saya ingin share  tentang kejadian lucu plus miris yang menimpa saya kemarin.

Ceritanya gini, saat saya berbelanja sepatu diMatahari MP, teman kantor saya Ulid menanyakan apa saya punya kartu MCC (Matahari Club Card) atau tidak. Seingat saya, duluuuuuuu…. sekali sebelum berangkat ke Oz saya punya, tapi karena sudah lebih dari dua tahun tidak digunakan, saya pikir pasti sudah expire keanggotaannya. Dengan asumsi itu, saya memutuskan untuk registrasi member baru. Kebetulan counter tuk pendaftaran MCC bersebelahan dengan tempat saya memilah-milah sepatu.
Dicounter itu ada dua orang staff Matahari, satu cowok dan satunya lagi cewek. Yang cowok sedang sibuk bertelepon ria, sedang yang cewek sedang mencatat sesuatu dalam notes.
Mbak, kalau mau register kartu MCC gimana caranya ya?” Saya bertanya. Dengan wajah yang kurang ramah (wajahnya tetap menunduk dan gak melihat ke saya) si mbak menjawab dengan suara yang kurang ramah pula ”Bayar 75 ribu.” Saya yang mendengar agak kaget, pertama karena info ttg pembayaran yg seingat saya dulu Free, kedua karena nada suara si mbak yang memang kurang bersahabat. Teman saya, Ulid lalu mengkonfirmasi ulang perkataan si mbak tadi, dengan bertanya ttg kartu MCC biasa. ”Ooo…belanjanya harus lebih dari 100 ribu baru bisa daftar!” kata si mbak Jutek ini. Saya yang mendengar jawaban itu langsung menuju kasir tuk membayar, sedang Ulid tetap didepan counter kartu MCC dan terdiam mengamati mbak jutek yang tetap sibuk sendiri dengan catatannya.
Selang lima menit kemudian saya kembali ke counter itu. Saya menyodorkan struk belanja sepatu yang sudah saya bayar ke si mbak jutek yg ada dibalik meja sambil berkata ”Mbak saya mo registrasi kartu MCC”. Dia mendongakkan kepala ke arah saya berkata ”pembelanjaannya harus di atas seratus ribu dulu baru bisa daftar”. ”Iya saya tahu, saya belanja lebih dari 100 ribu kok” Suara saya mulai agak sedikit keras, karena sepertinya si mbak memandang saya gak mampu beli barang dari toko itu seharga 100 ribu keatas.
 
Saya bisa menebak apa alasan utama si mbak jutek ngomong gitu ke saya. Dibanding teman kantor saya Ulid, dandanan saya saat belanja itu tergolong biasa banget, celana jeans dipadu dengan jaket katun warna hitam yang biasa saya kenakan saat naik motor plus sendal kaki putih sebagai alas, bisa jadi membuat seseorang akan dipandang kurang mampu dari segi finansial jika dilihat sepintas saja. Yaah….mo gimana lagi, emang dandanan aya kalo lagi cuek emang kayak gitu, hehehe….
 
Kembali ke counter, si mbak jutek meminta KTP saya tuk validasi. Kebetulan saya lupa bawa KTP, jadi yang saya serahkan sebagai identitas adalah SIM. Saat kartu identitas sudah berpindah tangan, si mbak memandang saya secara seksama bergantian dengan foto manis saya yang ada diSIM. Mungkin sambil berpikir, apa benar ini orang yang sama, kok dandanan dalam foto dengan aslinya yang berdiri didepan saya ini beda ya?!. Dengan kening sedikit berkerut, dia menulis nama plus embel-embel keagamaan yg sebenarnya jarang sekali saya gunakan didepan nama. Setelah mengisi beberapa informasi dalam form, si mbak bertanya lagi, tapi kali ini suaranya mulai melunak. ”pendidikan terakhir”, saya jawab dengan suara lugas ”S2” sambil memperhatikan respon mbak Jutek. Si mbak yang rupanya tidak siap mendengarkan jawaban itu bertanya lagi ”Pekerjaan?”. ”Dosen”. Disambungnya lagi pertanyaannya ”Negeri?” sambil memajukan wajahnya beberapa senti ke arah saya. Saya yang sudah mengerti kemana arah pertanyaan si mbak yang sama sekali tidak menulis apapun didalam kertas sontak menjawab dengan nada tegas ”YA!UNHAS!” sambil menatap matanya langsung menandakan saya benar-benar serius dengan apa yang saya katakan. Mendengar jawaban saya yang terakhir, saya lihat roman muka staff wanita yang semula jutek ini otomatis langsung berubah manis, suaranyapun yang awalnya gak friendly banget tiba-tiba melunak, benar-benar berbeda, berubah 180 derajat. Teman saya Ulid, yang juga ternyata memperhatikan perubahan staff wanita itu, juga memvalidasi cerita ini pada saya setelah kami keluar dari toko tersebut. Saya hanya menagngguk-angguk tersenyum mendengarnya.
 
Bukan sekali dua kali perlakukan seperti ini terjadi karena penampilan saya yang gak ada sangat casual. ”Ners Aya gak ada mirip-miripnya dengan tipikal dosen, lebih mirip mahasiswa” begitu komentar beberapa mahasiswa yang pernah saya dengar. Pernah ada kejadian juga, tanpa memvalidasi siapa dan dalam rangka apa saya duduk disana, dua orang panitia sebuah seminar nasional keperawatan meminta (kasarnya siy…..NGUSIR) saya pindah dari kursi undangan & dosen karena mengira saya hanya mahasiswa biasa dan gak boleh duduk dijejeran kursi terpilih. Pada kesempatan itu juga saya tidak diperkenankan mengajukan pertanyaan ke panelis dalam tiga sesi berturut-turut oleh si moderator (padahal saya sudah berdiri dan mengajukan tangan setinggi-tingginya…..mungkin karena saya gak pake blazer kali yeee…..), sampai akhirnya saya maju sendiri merebut mike lalu membuka identitas bahwa saya adalah salah satu pengajar di universitas negeri dikota ini, barulah moderatornya diam bungkam seribu bahasa. Kadangkala saya kesal diperlakukan diskriminatif sprt itu, namun dibalik itu saya senang, karena saya bisa lihat yang mana orang-orang yang benar-benar tulus membantu atau ingin berteman dengan saya tanpa ada tendensi tertentu dibaliknya.
Saya sering bertanya-tanya kenapa sih masih banyak orang di negeri yang katanya adab sopan santunnya masih tinggi, ternyata masih menilai orang dari penampilan fisik dan atribut sosial semata. Ada kecenderungan fenomena sosial dalam masyarakat kita, pendidikan dan jabatan berbanding lurus dengan harga diri seseorang. Semakin tinggi status sosialnya, maka semakin bergeser pula nilai-nilai tawdhu yang ada dalam dirinya. Yang dulunya ramah pada siapa saja, kini berubah menjadi jaim (jaga image). Apalah gunanya dandan keren, mentereng, bertitel, jabatan tinggi dll kalo attitude serta aptitudenya minus?!
Saya pribadi dari dulu selalu berprinsip, walaupun pendidikan atau jabatan yang diamanhkan pada kita setinggi langit, gak mesti sikap atau karakter kita juga ikut-ikut melambung. Itu kan semacam ”ujian spesial” yang diberikan Allah kepada kita untuk melihat sejauh mana kita bisa memanage amanah tersebut untuk membantu meringankan beban orang lain, bukannya malah menekan orang lain atau meminta untuk diperlakukan istimewa seperti yang dilakukan beberapa pejabat yang gak tahu malu yang katanya membela nasib rakyat digedung DPR/MPR sana. Lha…kok ceritanya dah nyampe disana yak? Aaarghh….EGP sama beberapa bapak2 gak bermoral disana!!!! yang penting, inti dari apa yang pengen saya share kali ini. Setinggi apapun status yang melekat dalam diri kita, tetaplah jadi diri kita sendiri, tetap humble, tetap down to earth bak bulir padi, semakin berisi maka semakin merunduklah ia.
-I dedicate this to a great & humble person who i adore thoroughly; a dean of medical faculty of Hasanuddin University-

I’m not Dead, just Floating

Tags

I am Me. In all the world, there is no one else exactly like me. Everything that comes out of me is authentically mine, because I alone chose it.  I own everything about me: my body, my feelings, my mouth, my voice, all my actions, whether they be to others or myself. I own my fantasies, my dreams, my hopes, my fears. I own my triumphs and successes, all my failures and mistakes. Because I own all of me, I can become intimately acquainted with me. By so doing, I can love me and be friendly with all my parts. I know there are aspects about myself that puzzle me, and other aspects that I do not know , but as long as I am friendly and loving to myself, I can courageously and hopefully look for solutions to the puzzles and ways to find out more about me. However I look and sound, whatever I say and do, and whatever I think and feel at a given moment in time is authentically me. If later some parts of how I looked, sounded, thought, and felt turn out to be unfitting, I can discard that which is unfitting, keep the rest, and invent something new for that which I discarded. I can see, hear, feel, think, say, and do. I have the tools to survive, to be close to others, to be productive, and to make sense and order out of the world of people and things outside of me. I own me, and therefore, I can engineer me. I am me, and I am Okay.”
-Virginia Satir-

Embrace The World With Andrea Hirata

Tags

, , , , , ,

 

Sungguh suatu kebahagiaan tersendiri bagi saya bisa bertemu langsung dengan penulis buku best seller Laskar Pelangi, Andrea Hirata. Andrea Hirata khusus datang ke Makassar atas undangan yayasan perguruan Islam Athirah yang didirikan oleh Bapak Wakil Presiden Jusuf Kalla. Acaranya ini sedianya diperuntukkan bagi guru dan orangtua murid Sekolah Athirah, namun rupanya karena animo masyarakat penikmat buku trilogi Andrea Hirata sangat tinggi, maka akhirnya dibukalah seminar pendidikan anak ini untuk umum.

 

Saya sendiripun mengetahui infomasi ini secara tidak sengaja saat membaca iklan di koran Fajar (harian lokal Makassar) dua minggu lalu. Secara pribadi, saya baru mulai mengenal sosok penulis yang murah senyum ini, sekitar dua bulan yang lalu. Saat itu saya baru tiba kembali ke tanah air setelah menyelesaikan pendidikan S2 selama 1,5 tahun diUniversity of Technology Sydney atas beasiswa pemerintah Australia. Sepulangnya itu saya diserahi tanggung jawab untuk mengajar mahasiswa S1 Keperawatan UNHAS (Universitas Hasanuddin) semester 6. Saat berinterkasi dikelas, saya sering mendengar mereka secara serempak menyebut-nyebut nama Andrea Hirata sebagai seorang penulis buku hebat dan the real inspirator. Saya sempat kebingungan dan bertanya ke mereka, siapa sih itu Andrea Hirata? Saya kok belum pernah dengar nama beliau sebelumnya? Padahal saya adalah salah satu penikmat buku-buku novel & psikologi best seller baik itu dalam mapun luar negeri semacam Ari Ginanjar Agustian, Aa Gym, Andrie Wongso, Habiburrahman Elshirazy, Dale Carniege, Barbara Cartland, Sydney Sheldon, Rhonda Byrne, Florence Litteaur, dll. Kok bisa-bisanya Andrea ndak masuk dalam perbendaharaan memori saya? Mereka menjawab bahwa Andrea ini penulis buku best seller Laskar Pelangi, yang menulis bagaimana suka-duka perjalanan hidupnya dalam memenuhi mimpinya untuk menginjakkan kaki di University de Paris, Sorbonne Perancis hanya dengan bermodalkan mimpi, tekad, ketulusan dan keteguhan hati. Karena penasaran, maka semenjak itulah saya mulai berburu dan mencari tahu siapa ini Andrea Hirata. Hal pertama yang saya lakukan adalah browsing di internet, lumayan banyak informasi yang saya dapatkan. Setelah itu saya mulai berburu masterpiece Andrea di Gramedia MARI (Mall Ratu Indah). Saat itu juga, kedua bukunya “Sang Pemimpi” dan “Edensor” langsung saya borong karena penasaran untuk membaca isinya (buku pertamanya Laskar Pelangi tidak jadi saya beli, karena selain mahal juga karena seorang teman berjanji untuk meminjamkannya pada saya). Tiba dirumah, buku itu langsung saya lalap sepeprti orang kelaparan belum makan berhari-hari. Mungkin seperti kata Andrea, bahwa untuk menulis bukunya itu, beliau sepeprti orang yang trance (kesurupan) hanya membutuhkan waktu tiga minggu saja untuk menyelesaikan novelnya, maka sayapun agaknya seperti itu. Semakin saya baca, maka semakin penasaranlah saya untuk tahu kelanjutan bab demi bab, buku demi buku. Tak terasa 2 hari bagi saya cukup untuk mengkhatamkan buku tersebut tanpa mengabaikan tugas utama saya sebagai seorang pengajar. Jujur dari buku itu saya belajar banyak hal, mengenai kejujuran, ketulusan, konsistensi, cita-cita, perjuangan dan pembentukan watak berdasarkan nilai-nilai moral yang Islami. Sangat jarang bisa menemukan karya sastra sebagus itu. Nah itulah hal-ihwal bagaimana saya bisa mengenal dan menyelami isi pikiran Andrea Hirata.

 

Kembali ke seminar di atas. Apresiasi masyarakat Makassar terhadap Andrea Hirata bisa dilihat dari banyaknya peserta yang datang khusus melihat penulis yang berulangtahun setiap tanggal 24 Oktober ini. Saat membeli tiket seminggu sebelumnya saya sempat bertanya kepada panitianya berapa estimasi peserta yang akan hadir pada acara tersebut, dijawab berkisar antara 500 hingga 750 orang. Wow, angkanya sangat fantastis menurut saya. Ini menandakan bahwa ternyata minat baca ‘to mangkasara’ (I mean penggemar makassar, yang at least tahu dan sudah membaca buku Andrea) jumlahnya cukup banyak, dan Andrea sebagai seorang penulis tergolong sangat sukses merebut hati keras orang-orang Makassar.

 

Acara seminar dimulai pukul 9.00. Molor setengah jam dari waktu yang telah ditentukan panitia. Panitia yang mengenakan pakaian seragam berwarna pink-putih, sudah menanti peserta dibagian pintu masuk. Begitu menunjukkan tiket seharga Rp. 60 ribu tersebut, kami langsung diberikan sebuah pin besar bertuliskan “Merangkul dunia bersama Andrea Hirata” yang harus langsung disematkan didada, ditambah stiker, sertifikat dan handout mengenai yayasan perguruan Athirah. Saya cukup beruntung, karena walaupun terlambat memasuki ruangan yang sudah terisi hampir sepenuhnya, tapi saya dan kolega saya, Ns. Rini Kadar bisa mendapatkan tempat dibaris ketiga dari depan (hehehe, itulah kehebatan berani bertanya dan berani malu). Sambil duduk, saya mengedarkan pandangan untuk mencari tahu kali-kali aja ada wajah yang failiar yang saya kenal juga hadir diacara itu, ternyata tidak. Didepan panitia hilir mudik membagikan kotak kue pada peserta sambil sesekali menenangkan peserta yang mayoritas (l.k 80%) adalah gadis remaja dan ibu-ibu paruh baya, yang rupanya sudah tidak sabar menantikan idola mereka. Sambil menunggu kedatangan Andrea, peserta dihibur oleh penampilan bocah-bocah cilik, siswi TK athirah yang membawakan sebuah tarian pak tani diiring lagu anak-anak “cangkul-cangkul, cangkul yang dalam” (hahaha, maaf saya lupa apa judulnya). Kemudian dilanjutkan dengan penampilan murid-murid SD Athirah yang memainkan alat musik pianika sekitar 5 menit, hanya saja kali ini telinga saya kurang peka untuk menangkap lagu apa yang sedang dibawakan. Mungkin karena saya sedang fokus mengabadikan gambar salah satu murid SD tersebut yang wajahnya sangat mirip dengan teman akrab saya, Ns. Citha.

 

Sekitar jam 9.30 WITA, rombongan Andrea Hirata tiba diruangan. Suasana dalam ruangan yang semula tenang seketika terdengar seperti rubungan lebah yang menemukan nektar diladang tandus. Peserta hampir semua berdiri, blitz kamera menyala disana sini menyilaukan. Bahkan beberapa peserta spontan maju ke bibir panggung untuk mengabadikan dari dekat wajah Andrea Hirata. Saya sendiri tidak ikut maju, berhubung zoom kamera Canon Powershot S5IS saya sudah bisa mengclose-up wajah Andrea dengan sangat jelas. Karena suasana semakin tidak terkontrol didepan, akhirnya security serta pihak managemen Andrea turun tangan untuk mengamankan potografer2 amatiran yang jumlahnya terus saja membludak. Setelah tenang sedikit, acara dimulai dengan pembacaan Kalam Ilahi yang diikuti Saritilawah dari pihak guru Athirah, mengalir sambutan oleh ketua yayasan Athirah, dan penampilan murid SMP athirah. Penampilan mereka cukup apik dan luwes. Murid SMP athirah ini menarikan sebuah tari kontemporer yang diiringi lagu Bunda. Entah karena kepiawaian murid-murid ini membawakan tari ataukah karena syair lagu Bunda yang menyentuh, saya perhatikan Andrea sempat terbawa emosi haru yang tampak dari roman mukanya. Saya sengaja men-zoom wajah Andrea karena rasa penasaran yang tiba-tiba muncul begitu saja. Jadi, pada saat orang lain mengabadikan tarian murid Athirah, maka saya fokus ke ekspresi wajah Andrea. Terlihat bahwa Andrea berusaha menahan perasan haru dan bibirnya tampak bergerak patah-patah mencoba mengikuti lagu Bunda meski tidak hapal syairnya, kecuali bagian refrain. Saya mengambil kesimpulan, benar seperti yang tertulis dalam bukunya, Andrea sangat patuh dan hormat pada atribut apapun yang mengikuti ibu, ibunda, emak, mama, bunda.

 

Akhirnya tiba pada acara inti, Andrea menyapa semua peserta dengan senyumnya yang khas, gaya tubuhnya yang dinamis yang mengirimkan sinyal-sinyal motivasi ke relung jiwa setiap pesertanya. Ada aura positive yang tertangkap dari gaya bahasanya. Juga petuah-petuah bijak mengalir dari budi bahasanya yang halus. Yang ditekankan saat itu adalah cerita tentang ketulusan. Ketulusan ibu Muslimah, ibu gurunya yang mau mengajar disebuah sekolah Muhammadiyah tanpa menerima bayaran (kadang-kadang cukup dibayar dengan beras oleh orangtua murid) disalah satu pulau terpencil di Sumatera. Ketulusan seorang guru yang hanya lulusan SKP (Sekolah Kepandaian Putri) yang ternyata saat itu baru berusia 15 tahun, tapi sudah mendedikasikan dirinya untuk masa depan pendidikan anak-anak miskin pulau Belitong. Dedikasi seperti ini mungkin sangat langka kita temui dijaman sekarang, apalagi dikota-kota besar. Mana ada coba guru yang mau mengajar hanya dengan iming-iming beras 15 Kg tiap bulannya atau tidak dibayar sama sekali?. Sangat langka bukan?! Ibu Muslimah malah sebaliknya, dirinya bak sumur air yang jernih, sumber kehidupan yang tidak ada habisnya ditengah ladang yang ditinggalkan. Begitulah arti seorang ibu Muslimah bagi Andrea pribadi. Andrea menuturkan keinginan menulis bukunya sendiri berawal dari dari suatu waktu beliau duduk dikelas 3 SD, saat itu hujan lebat. Dan dari dalam kelas Andrea melihat ibu guru kesayangannya datang menggunakan pelepah daun pisang sebagai pengganti payung. Dari situ tiba-tiba terbersit keinginan Andrea untuk menunjukkan baktinya pada sang ibunda guru, bahwa suatu hari nanti akan menulis buku bagi ibu Muslimah, agar bisa membuat beliau bangga. Cukup lama ide itu terendap, sampai suatu ketika dipenghujung tahun 2004 saat Tsunami menuluh lantakkan Nangroe Aceh Darussalam, Andrea menjadi salah satu volunteer atau relawan pasca tsunami. Setelah bekerja keras selama 3 minggu diAceh, dalam perjalanan pulang mengendarai bus, Andrea melewati salah satu daerah yang juga hancur akibat tsunami. Tanpa sengaja, matanya tertumbuk pada reruntuhan sebuah sekolah, dan didepan sekolah tersebut berdiri seorang ibu guru sambil memegang sebuah spanduk bertuliskan “Ayo kembali sekolah, Jangan sampai patah semangat”. Tiba-tiba saja bayangan Ibunda gurunya berkelebat dalam kepalanya, dan janjinya untuk membuat buku menggeliat bangun dari alam bawah sadarnya.

Pulang dari situ, Andrea mengurung diri di selama tiga minggu dikamarnya seperti orang gila. Menulis buku katanya, ya menulis buku. Andrea tertawa, menangis, marah, senang, meringis, kecewa, semua menjadi satu dalam kumpulan naskah tulisan yang disimpannya dalam sebuah laptop milik bersama teman kost. Saat itu dirinya hanya berniat menunjukkan naskah yang dibuatnya kepada Ibu muslimah yang kondisi kesahatanya mulai menurun, hanya itu tidak ada niat untuk mempublikasikannya pada khalayak ramai. Namun, rupanya teman kostnya secara tidak sengaja membaca dan mengirimkannya pada sebuah penerbit dengan tetap mencantumkan nama Andrea sebagai penulisnya. Ternyata diluar dugaan, sambutan masyarakat pembaca akan buku ini sangat besar, ratusan ribu exemplar laris manis bak kacang goreng ditoko-toko buku terkemuka. Buku ini bahkan sekarang sudah terjual lebih dari setengah juta copy dan mengukuhkan gelar sebagai the best seller book in Indonesia. Tidak hanya laris diIndonesia dan negara tetangga Malaysia, bahkan kini buku ini rencananya akan diterjemahkan kedalam bahasa asing yang akan beredar dinegara-negara Eropa.

 

Selesai tanya jawab yang dibuka dalam dua babakan, dimana tiap babakan terdiri dari tiga penanya. Acara dilanjutkan dengan foto bareng dan tanda tangan Andrea dibuku2 karyanya. Karena budaya Indonesia yang dikenal sulit antri, maka acara foto bareng akhirnya dipercepat, digantikan dengan Signing book yang bertempat diruang sebelah tempat seminar diadakan sebelumnya. Sempat terjadi ketegangan, karena banyak peserta tidak mau antri dan seenaknya saja memotong pada barisan peserta yang sudah berbaris memanjang keluar dan menunggu Andrea sekitar 30 menitan. Andrea sempat diamankan oleh pihak manajemennya, karena terjadi chaos dimana ibu2 yang tidak sabaran bergerak agresif kedepan mencoba mendekati Andrea untuk sekedar minta tandatangan atau kalau beruntung, bisa berfoto disamping Andrea.

Saya menunggu giliran cukup lama walaupun saya berada dibarisan nomor duapuluhan dari kepala antrian. Mendekati giliran, saya lihat Andrea yang pagi itu mengenakan kemeja merah maroon dan topi baret hitam seperti topi pak Tino dalam acara lukis-melukis di TVRI jaman saya SD dulu; duduk disebuah meja dengan dikelilingi oleh bapak-bapak security yang mengenakan seragam batik cokelat tua dan safari hitam. Andrea tampak tenang, menuliskan namanya disetiap buku sambil menanyakan pada peserta yang berdiri didepannya nama siapa yang akan dituliskan sebelum dia menggoreskan tanda tangannya.

 

Ketika tiba giliran saya, saya sempat menyapanya “Hello Mr. Andrea, Ca va?!”, dia hanya tersenyum sambil menunduk, lalu mungkin sadar kalau saya menyapanya dalam bahasa Perancis. Dia lalu mendongak tersenyum pada saya lalu menjawab “Tres bien, merci” (French: I’m very well, Thanks). “Siapa namanya?”. Saya jawab singkat “Aya”. Saya lihat Andrea lalu menuliskan dua baris kalimat pada buku ”Sang Pemimpi” dengan tulisan –Dear Aya. Andrea Hirata.– Lalu pada buku “Edensor” Andrea menambahkan satu baris kalimat lagi “Tres bien“ (baca: Trai byern) yang bermakna seperti yang saya tulis diatas tadi, Hmm….bukannya ingin keGR-an, tapi saya yakin ini tidak terjadi pada hampir semua buku-buku lain yang ditanda tangani oleh Andrea pada hari itu. Buku Laskar Pelangi sendiri yang merupakan seri pertama, karena merupakan milik teman saya, maka saya minta Andrea menuliskan nama teman saya dibagian dalamnya, Chita. Setelah itu, saya beri ucapan terima kasih dalam  bahasa perancis “Merci beacoup” (baca: mair-see boku) sambil menyalami tangan Andrea yang diikuti oleh anggukan kepalanya dan senyumnya yang simpatik. Wow, pertemuan yang hanya kurang dari satu menit, tapi sangat berkesan bagi saya. Dan kalau ingin dibuat cerita lengkapnya, mungkin dua halaman A4 masih belum cukup. Hahaha….inilah yang disebut syndrom gila nomor sekian sekian. Jika bertemu tokoh yang diidolakan, ada dua kemungkinan bisa terjadi. Pertama, tergugu terbata-bata diam dan membisu, yang kedua sebaliknya, banyak bicara ke-PD-an dan meracau menggunakan bahasa planet Mars. Yah, itulah saya. Bukan hanya sekali terjadi, berkali-kali bahkan, tetapi lebih seringnya sih yang nomer dua. Seperti saat bertemu Andi Malarangeng, Heidy Yunus dan Riri Riza diSydney dulu. Sedang option nomer satu terjadi saat saya bersalaman dengan SBY dan menteri-menteri kabinetnya saat diselenggarakannya APEC 2007 yang juga dipusatkan diSydney serta idola paling favorit saya, Nicholas Saputra. Yang saya bisa lakukan hanya diam tersenyum manis sambil merasakan denyut jantung yang tiba-tiba saja meloncat melebihi normal, untung gak collapes euy.

 

 

Anyway, acara hari itu tergolong cukup sukses meski pesertanya masih agak susah diatur. Yaah, tipikal sebagian orang Indonesia lah… yang masih belum juga insyaf akan pentingnya sikap displin dalam kehidupan sehari-hari. Panitia sudah berusaha maksimal mendatangkan Andrea Hirata dan mengarrange acara sedemikian rupa hingga layak untuk dihadiri.

Tidak rugi saya mengorbankan sebagian hari kerja untuk datang ke Seminar itu. Padahal saya tidak sempat ijin pada Pimpinan untuk tidak masuk setengah hari, mudah-mudahan beliau mahfum akan kegilaan saya^_^.

Pagi itu sebenarnya saya ditelepon untuk datang kekantor lebih awal karena bersama seorang rekan saya yang lain yang juga gape cas cis cus English, saya diminta untuk mengikuti presentasi perwakilan dari Universitas Kanada yang datang ke Fakultas Kedokteran untuk membuat MoU dalam rangka pengembangan kurikulum berbasis PBL (Problem Based Learning). Saya bukannya mau membandel dan tidak tunduk pada pimpinan, tapi saya merasa penunjukan itu sangat tiba-tiba tanpa ada konfirmasi sehari sebelumnya, bahkan saya tidak jelas apa yang nanti harus saya lakukan disana. Itu tidak akan pernah terjadi sodara-sodara diluar negeri, jangan harap meminta seseorang secara sembarangan tanpa appointment atau perjanjian terlebih dahulu, meskipun kita kenal baik dengan orang tersebut. Yeah….., i know ini di Indonesia bukan Australia, so…anda pasti bilang saya cukup kelewatan. Saya tidak akan menolak instruksi pimpinan saya seandainya tidak ada seminar ini, tapi berhubung saya sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari untuk bertemu Andrea, maka saya hanya bisa minta maaf pada pimpinan saya. Mudah-mudahan next time, gak ada lagi jadwal yang berbenturan kayak gini.

 

Antara Kartini, Butet, Dewi Persik dan JuPe

Tags

, , , , ,

 

(Picture taken from here)

Hari ini kita memperingati Hari jadi ibu kita Kartini yang merupakan pelopor pejuang wanita untuk keluar dari kegelapan (Oow, pasti dulu belum ada lampu ya?). Dengan caranya yang elegan, R.A Kartini berhasil membawa babakan baru bagi kaum wanita untuk duduk sejajar dengan pria diberbagai bidang dan kesempatan yang sama tanpa melupakan kodratnya sebagai seorang wanita.

 

Baik, itu mungkin sudah terjadi berpuluh-puluh tahun yang lalu. Mungkin ada sebagain dari anda yang berkata ‘Cape deeeeeee.. dengernya.” karena sudah tau cerita lengkap R.A Kartini dimata pelajaran sejarah sejak jaman SD dulu ampe SMA. Ok, mari kita lihat Kartini modern yang hidup dijaman kita sekarang.

Saat membaca profil Butet Manurung pertama kali disebuah majalah bulanan ibu kota, saya sempat ternganga heran dan salut abis akan sepak terjang wanita batak kelahiran Jakarta ini. Salut abis….!! Disaat gadis-gadis muda berduyun-duyun kekota untuk mencari peradaban (lha…emang peradabannya hilang kemana?) Butet malah memutuskan untuk tinggal selama 9 bulan dipedalaman Jambi nun jauh di Pulau Sumatra sana, hanya karena ingin mengajarkan mereka Orang Rimba (sebutan bagi suku anak dalam yang masih primitif kehidupannya) membaca, menulis dan berhitung dalam bahasa ibu mereka. Tujuan mbak Butet ini tidak lain, agar orang rimba tidak lagi dibodoh-bodohi saat menandatangani kontrak oleh pihak yang ingin mengambil tanah mereka dengan 1001 alasan dibalik illegal logging. Usahanya memang tidak sia-sia, walaupun sempat dihalang-halangi dan diintimadisi pada awalnya baik dari pemerintah setempat bahkan Orang Rimbanya sendiri, tapi karena dorongan nurani dan konsistensi yang berakar dalam dirinya, maka akhirnya kini anak-anak orang rimba tidak lagi buta huruf. Bahkan Butet telah menjadikan beberapa di antara mereka sebagai guru pengganti dirinya untuk meneruskan perjuangan mengeluarkan suku terasing ini dari jurang kebodohan dan kemiskinan.

.

(Picture taken from here)

Nah itu tadi contoh nyata Kartini masa kini yang menunjukkan eksistensi dirinya dengan melakukan suatu hal yang berguna bagi kemaslahatan orang banyak. Lalu apa kaitannya dengan R.A Kartini dan Butet Manurung dengan wanita-wanita kontroversial semacam Dewi Persik dan Julia Perez?

 

Dua tokoh yang saya sebutkan pertama adalah wanita2 yang sangat berdedikasi mengangkat harkat wanita, tidak hanya dimata publik secara nasional, bahkan dunia internasional. Sedangkan dua wanita terakhir malah kebalikannya, mereka malah kembali memuramkan harkat dan martabat wanita dengan cara murahan, mempertontonkan tubuh mengumbar aurat. Dengan dalih seni, kebebasan berekpresi dan hak asasi blah..blah..blah, mereka dengan gamblangnya mempertontonkan kemolekan tubuh plus pemikiran cetek mereka yang hanya memikirkan keuntungan popularitas semata, mencari sensasi untuk meningkatkan daya jual diri (dirinya emang dijual berapa neng….?).

(Picture taken from here)

Dewi Persik contohnya, goyang gergajinya yang kontroversial serta penampilannya yang terlalu sexy (yang sebagian besar hanya ditutupi pakaian minim bahan dan beberapa kali melorot saat beraksi di atas panggung), sontak membuat pergunjingan dimasyarakat dan akhirnya berbuah pencekalan manggung dibeberapa daerah. Saya kadang berpikir, apakah Dewi Persik tidak sadar dengan berbagai kecaman dan cekalan yang dialamatkan kepadanya, juga perkawinannya yang berbuah perceraian gara-gara cara pakaiannya ditambah towelan usil pada maaf, buah dadanya beberapa waktu lalu? Apakah wanita belia cantik ini tidak mengambil hikmah atas apa yang terjadi pada dirinya? Contoh apa yang ingin ditunjukkan kepada bangsa ini, kalau goyangan gergajinya belum apa-apa sudah mengundang nafsu syahwat lelaki yang menontonnya? Lalu apa bedanya dong Dewi Persik dengan 3 PSK yang tertangkap disebuah karaoke di Surabaya karena goyang mak erotnya (eh, salah, maksudnya goyang erotis mak)? Apa juga dia tau, goyangannya telah menginspirasi timbulnya penyanyi goyang ca’doleng-doleng (bugis: bergoyang-goyang menggelantung, yang dialamatkan pada buah dada penyanyinya) diBone, Sulawesi Selatan yang ditonton tidak hanya oleh orang dewasa tetapi juga oleh anak-anak yang masih bau kencur dan belum ngerti apa itu maksudnya erotisme? Hayo, siapa yang mau bertanggung jawab atas terkikisnya moral generasi penerus kita ini? Jawabnya ada dinurani Anda sendiri. Kalau saya sudah jelas, jika PSK dan penyanyi ca’doleng-doleng harus berurusan dengan Kepolisian karena praktek asusila, maka harusnya Dewi Persik juga dong?! Itu baru fair!

 

(Picture taken from here)

Kini kita beralih pada Julia Perez. Sebenarnya nama Julia Perez juga saya jarang-jarang amat dengar, wong saya paling ogah nonton infotaiment dan sinetron indo (emang Julia Perez aslinya apa sih? Penyanyi? Penari? Pemaen sinetron? Ataukah Model?). Saya tahunya saat mendengar cerita teman saya yang sudah menyaksikan acara hiburan yang ada penampilan sexy abisnya jupe. Berikutnya, baru tadi pagi saat melihat berita seputar kontroversi launching lagu yang disertai dengan bonus kondom dalam album perdananya. Diwawancarai secara terpisah, Julia Perez yang akrab disapa Jupe secara terbata-bata (kok kepiawaiannya mempertontonkan tubuh tidak sejalan dengan kemampuan lidahnya menjawab pertanyaan2 presenter TV dan pemirsa ya?) berdalih bahwa penyertaan kondom didalam bungkus CD & DVD-nya itu adalah salah satu bentuk kampanye mengurangi penyebaran HIV/AIDS dikalangan generasi muda. Ditempat lain, Menteri Pemberdayaan Perempuan ibu Meutia Hatta tidak membenarkan apa yang dilakukan Jupe beserta managemennya, selain itu menurut putri almarhum mantan wakil presiden pertama Indonesia ini, Jupe juga terbukti tidak mengadakan koordinasi dengan badan atau lembaga manapun yang bergerak dibidang pemberantasan PMS ataupun HIV/AIDS, nah lho!!!!

Lagian nih, kalu mau ditelusuri lebih lanjut, apa hubungannya judul album Kamasutra dengan pemberantasan HIV ya?. Bukannya Kamasutra itu secara harfiahnya berarti seni bercinta kuno ala India? Jadi judul Kamasutra digabung dengan kondom, apa bukan berarti let’s have free sex sambil mendengarkan lagunya Julia Perez yang mendesah-desah kayak cacing kepanasan!!!

Haduh, Jupe…Jupe…, mo jadi artis terkenal kok caranya aneh-aneh aja!

Tiba-tiba jadi inget dulu bahan ejekan buat teman yang suka nyanyi tapi suaranya pas-pasan. Kalo gak salah kayak gini ”Hindari kaset dan Cdnya!!!!. Tapi khusus buat Jupe perlu ditambah, lengkapnya seperti ini ”Hindari kaset dan Cdnya, berbahaya buat telinga juga kantong apalagi alat kelamin”.

New Baby Gear

Masih ingat dengan postingan lalu saya tentang “newborn racer”? Disitu saya berjanji akan mengupload gambar motor pilihan saya kan?! Naaaaah….ini deh dia

Proudly i present you, my cute baby in crime

My NEW VEGA R!!!!

Belum bisa dibawa jauh-jauh sih, soalnya STNK plus nomor plat nya juga belom jadi. SIM juga masih ngurus dikampus. Terpaksa deh jalan-jalan ama si baby cuman diseputar kompleks rumah 

Langit Sore Itu

Pulang kerja seperti biasa jam 5pm, saat naik becak di depan kantor gubernur Jl. Urip Sumoharjo menuju rumah. Tanpa sadar, pandangan saya menangkap sesuatu yang cantik membentang di depan mata. Sontak saya mendongak ke atas, eeeh…langit sore kok jadi cantik ya. Dengan kamera HP Sony Ericsson K800i, moment indah ini jadi kenangan yang gak akan hilang selamanya dari memori saya. Setelah diedit dengan sentuhan photoshop CS2, jadilah gambar menarik seperti yang Anda lihat di atas ini.

How Are You Today, Sakazakii-san?

Berikut adalah tulisan dari teman saya Anton Rahmadi; seorang pengajar berdedikasi tinggi diUniversitas Mulawarman , food scientist dan maestro IT , mengenai kontroversi seputar bakteri sakazakii yang sempat meresahkan banyak ibu-ibu yang memiliki balita. Dimuat diharian Kaltim Post.

Berbahaya Jika Sistem Imun Lemah
Potensi Dampak E. sakazakii terhadap Konsumsi Susu Balita

Oleh: Anton Rahmadi, M.Sc.

Enterobacter sakazakii (dibaca: enterobakter sakazaki-ai) benar-benar telah menjadi bintang pemberitaan media disamping mandegnya pembahasan RUU Pemilu dan musibah-musibah yang silih berganti.

 

PEWARTAAN yang berturut-turut setiap hari hingga rekayasa tuntutan masyarakat agar mengumumkan nama-nama brand susu formula balita yang mengandung bakteri patogen, E. sakazakii, oleh media kepada tim peneliti IPB ini tentu akan menyeret dampak yang lebih besar.

Dampak pertama adalah matinya brand susu formula begitu diumumkan ke publik. Contoh ini telah banyak terjadi saat Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengumumkan bahwa sebuah produk tidak halal. Reaksi menghakimi yang dilakukan masyarakat tentunya akan menyebabkan brand susu yang disebutkan tersebut ditinggalkan untuk selamanya.

Padahal, hasil riset dari seluruh dunia mengatakan bahwa kontaminasi E. sakazakii dapat terjadi pada merek susu apapun yang kualitas produksinya mengalami kecacatan. Jadi bahasa mudahnya adalah: keberadaan E. sakazakii tidak terkait satu atau dua nama susu formula, tetapi lebih dikarenakan adanya kontaminasi sporadis dalam batch tertentu dalam taraf produksi. Setidaknya, inilah yang dapat disimpulkan dalam sebuah penelitian serupa setahun silam di UNSW, Sydney terhadap produk-produk susu formula di Australia.

Prevalensi kontaminasi E. sakazakii sehingga berkembang dan membahayakan konsumen menurut sebuah penelitian di Belanda adalah maksimum 6,5%. Dalam perhitungan ini, dibutuhkan waktu lima hari pasca produksi, sehingga susu yang tercemar satu sel hidup E sakazakii menjadi berbahaya untuk dikonsumsi oleh masyarakat.

Dampak kedua yang nyata terjadi adalah beralihnya masyarakat dari meminum susu. Dampak yang diperkirakan akan semakin meluas ini adalah akibat kurang berimbangnya pengetahuan yang diberikan kepada masyarakat bahwa E. sakazakii ini hanya berbahaya bagi balita dengan sistem imun lemah, lahir prematur, atau secara umumnya bayi dengan usia kelahiran 0-6 bulan. Bakteri inipun mudah mati apabila susu dipanaskan terlebih dahulu pada suhu 85-100°C selama 1-2 menit sebelum dicampur dengan air dingin dan diberikan kepada balita bersangkutan. Secara umum, yang diberitakan oleh media adalah beralihnya sebagian masyarakat kepada akternatif-alternatif selain susu formula.

Alternatif susu formula, misalnya susu segar tetap harus dimasak sampai mendidih terlebih dahulu untuk menginaktivasi bakteri yang kandungannya boleh jadi lebih tinggi dibandingkan pada susu formula. Sebagai gambaran, susu segar dari sapi yang terkena mastitis (radang kelenjar susu) akan memiliki kandungan bakteri yang cukup (1 juta sel/g produk) untuk menyebabkan penyakit bagi manusia. Susu segar, bagi balita tertentu pun bisa berakibat kurang baik karena sebagian bayi menderita sensitif terhadap laktosa (lactose intolerance). Di lain sisi, susu segar yang disiapkan dengan baik, tentunya sehat dan bergizi sebagaimana layaknya susu formula. Alternatif menggunakan susu segar masih terbilang baik dibandingkan alternatif berikutnya.

Alternatif air tajin merupakan pilihan yang tidak dianjurkan. Kandungan protein, vitamin, mineral maupun gula sederhana yang dibutuhkan untuk perkembangan otak sang bayi tidak dapat ditemukan pada air tajin, selengkap yang ditemukan pada susu.

Dampak ketiga yang akan menyusul adalah bayi yang pertumbuhannya terganggu karena asupan gizinya yang kurang ideal. Sudah diketahui bahwa tidak semua tingkat ekonomi masyarakat yang mampu memberikan susu kepada bayi-bayi mereka. Munculnya pemberitaan ini akan menyebabkan semakin banyaknya kelompok masyarakat yang tidak memberikan susu, mampu ataupun tidak mampu. Tentu saja, perkembangan ini akan berbahaya bagi kelangsungan generasi penerus bangsa.

Oleh karena itu, pemerintah sebaiknya menghentikan kontroversi untuk menerima-tidak menerima hasil penelitian, sekalipun sebenarnya data-data yang telah diungkapkan tersebut sangat kuat karena didukung oleh fakta penelitian-penelitian yang dilakukan di seluruh dunia. Pemerintah sebaiknya mengambil langkah edukatif terhadap warganya dengan menyiarkan cara menyiapkan susu yang sehat dan aman dari kontaminasi bakteri E. sakazakii. Pada saat yang sama, pemerintah mendesak industri untuk memperbaiki standar produksi susu formula termasuk dengan cara memasukkan E. sakazakii dalam proses Hazard Analisis Critical Control Point (HACCP) di tingkat produksi.

Bagi tim peneliti IPB tentunya ada saran khusus, yaitu membuat satu spot khusus di media elektronik ataupun cetak yang menjelaskan secara detil tentang hasil penelitian yang telah dilakukan, bahaya yang mungkin ditimbulkan, audiens yang potensial terdampak bahaya tersebut, serta cara pencegahannya. Apa yang sudah diberitakan dengan kurang tepat harus diluruskan. Inilah peranan saintis untuk menciptakan situasi yang lebih baik di negeri ini.

Kesimpulan:

1. Kontaminasi E. sakazakii menurut penelitian di seluruh dunia terjadi secara sporadis dan tidak terkait brand tertentu.

2. E. sakazakii berbahaya bagi bayi berusia 0-6 bulan, atau lahir prematur atau bayi dengan sistem imun yang rendah.

3. Mempersiapkan susu dengan cara merendam susu di dalam air panas (85-100°C) selama 1-2 menit sebelum dicampur dengan air dingin dan diberikan pada bayi sudah cukup untuk menonaktifkan bakteri tersebut.

4. Menghentikan asupan susu dan mencari alternatif lain, terutama air tajin, adalah solusi yang tidak dianjurkan, karena kandungan gizinya tidak selengkap susu segar ataupun susu formula.***

 

*) Peneliti Mikrobiologi, Universitas Mulawarman, Samarinda. Alumni University of New South Wales, Sydney, Australia.

Dampak Film Fitna

Dampak dari merajalelanya peredaran film Fitna oleh Geert Wildert dimedia internet adalah pemblokiran beberapa situs yang menyediakan fitur untuk mengupload video dimaksud. Berita yang dikabarkan via chatt oleh kawan saya Irfan cukup membuat saya kaget, panik bin takjub karena saya memiliki account ditiga dari beberapa website yang diblokir berdasarkan Kepmenkominfo bernomor 84/M.KOMINFO/04/08 itu. Menkominfo Muhammad Nuh menginstruksikan 146 ISP (Internet service provider) dan 30 NAP (network access provider) untuk memblokir situs-situs yang memuat film Fitna. Tindakan drastis ini diambil karena Google tidak mengindahkan permintaan pemerintah untuk menghapus video Fitna dari situsnya. Saya sendiri baru tahu setetlah dikirimkan link pemberitahuan yang dikeluarkan oleh admin Telkomspeedy yang dapat dibaca disini. Menurut saya pribadi, sikap pemerintah terlalu terburu-buru dalam menyikapi permasalahan ini, tanpa ada sosialisasi atau survey pada para blogger, tiba-tiba saja seenaknya meminta pada ISP untuk memblokir situs-situs aktif seperti Youtube, Multiply dan social network Myspace. Meminjam istilah pak Josua M Sinambela, insiden pemblokiran situs2 krusial untuk mengcounter peredaran film Fitna ini sama seperti membunuh seekor nyamuk dengan sebuah bom atom!!! Bukan hanya nyamuknya aja yang tewas, semua makhluk yang hidup disekelilingnya juga ikut tewas, seperti saya sekarang ini yang sudah panik blingsatan gak karu-karuan karena gak bisa ngeblog juga mendownload bahan kuliah via Youtube!! Terpaksa deh, tuk sementara pindah ngeblog dulu ke blogspot dan WordPress. Ya sudahlah, buat mahasiswaku, sabar-sabar aja ya, nti kita nonton video keperawatan komunitas setelah akses youtube dibuka kembali, ok! 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.